[BUTENA 5] Geothermal dan Masa Depan Energi: Peran Strategis Chemical Engineer

Geothermal dan Masa Depan Energi: Peran Strategis Chemical Engineer

Geothermal, atau energi panas bumi adalah sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan dan paling bersih dibandingkan energi fosil maupun energi terbarukan lainnya. Menurut Undang-Undang No. 27 tahun 2003, panas bumi adalah sumber energi panas yang terkandung di dalam air panas, uap air, dan batuan bersama mineral ikutan dan gas lainnya yang secara genetik tidak dapat dipisahkan dalam suatu sistem panas bumi. Energi ini berasal dari aktivitas magma dan panas inti bumi yang temperaturnya mencapai lebih dari 5.000 derajat Celcius, yang merambat keluar melalui lapisan batuan menuju kerak bumi dan bersentuhan dengan air tanah sehingga membentuk reservoir panas bumi berisi air panas atau uap bertekanan tinggi.

Gambar: PLTP Ulumbu

Indonesia menempati peringkat kedua sebagai produsen listrik panas bumi terbesar di dunia. Terletak di jalur Cincin Api (Ring of Fire), Indonesia memiliki salah satu potensi panas bumi terbesar di dunia, mencakup hampir 40% dari total potensi global. Meski demikian, saat ini baru sekitar 10% dari potensi geothermal yang dapat dikelola. Beberapa pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) yang beroperasi di Indonesia antara lain:

  1. PLTP Sibayak (12 MW)

  2. PLTP Sarulla (330 MW)

  3. PLTP Ulubelu (220 MW)

  4. PLTP Salak (377 MW)

  5. PLTP Kamojang (235 MW)

dan masih banyak lagi.

Gambar: Perbandingan Peta Industri Geothermal

Keunggulan geothermal terletak pada stabilitasnya. Berbeda dengan energi surya dan angin yang bergantung pada cuaca, geothermal mampu menghasilkan daya secara stabil dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan jaringan listrik. Emisinya pun jauh lebih rendah, yaitu hanya berkisar 6–79 gCO₂eq/kWh, dibandingkan batu bara (675–1.689 gCO₂eq/kWh) dan minyak bumi (510–1.170 gCO₂eq/kWh). Dengan karakteristik ini, geothermal menjadi alternatif ideal untuk menggantikan pembangkit berbahan bakar fosil sekaligus menjaga stabilitas grid.

Tantangan industri geothermal mencakup tiga hal utama. Pertama, biaya awal yang tinggi karena potensi panas bumi banyak berada di daerah terpencil dengan medan berat dan minim infrastruktur, sehingga mobilisasi peralatan, pembangunan fasilitas pendukung, serta investasi jalur transmisi dan pemerataan jaringan listrik menjadi mahal. Kedua, risiko aktivitas seismik, terutama pada teknologi Enhanced Geothermal Systems (EGS) yang menyuntikkan cairan ke lapisan batuan, sehingga mitigasi dan penerimaan masyarakat tetap menjadi hambatan. Ketiga, pengelolaan emisi dan cairan geothermal, karena pembangkit masih melepaskan CO₂, H₂S, dan metana meskipun jauh lebih sedikit daripada bahan bakar fosil, ditambah cairan geothermal yang mengandung mineral terlarut dan zat kontaminan sehingga memerlukan penanganan khusus dan biaya ekstra.

Gambar: Diagram Alir Proses Industri Geothermal

Industri geothermal sangat relevan dengan ilmu chemical engineering. Sebagai Engineer kita dapat berperan penting bukan hanya di sektor yang umum, seperti minyak, farmasi dan lain sebagainya, tetapi chemical engineer juga dapat bekerja dalam industri geothermal dengan tugas antara lain:

  1. Manajemen Fluida & Geokimia

Memprediksi, mencegah, dan menangani pembentukan kerak serta korosi pada pipa/turbin menggunakan inhibitor kimia.

  1. Pemisahan Fase

Mendesain dan mengoperasikan unit pemisah (separator, steam drum, demister) agar uap yang masuk ke turbin benar-benar kering dan bersih.

  1. Penanganan Gas Tak Terembunkan (NCG)

Mendesain sistem pengolahan dan pembakaran/penyerapan gas H2S agar tidak mencemari lingkungan.

  1. Termodinamika & Siklus Pembangkit

Mengoptimalkan siklus binary atau Kalina untuk fluida bersuhu sedang-rendah.

  1. Ekstraksi Logam Berharga

Mengembangkan teknologi ekstraksi Lithium, Silika, dan Rubidium dari brine geothermal.




Sumber Kajian

Dinas Komunikasi, Informatika, dan Kehumasan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (2021, 23 Juli). Ini dia sebaran pembangkit listrik panas bumi di Indonesia. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia. https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/ini-dia-sebaran-pembangkit-listrik-panas-bumi-di-indonesia

Eonchemicals. (n.d.). Industri panas bumi. https://www.eonchemicals.com/industri/panas-bumi/

Krieger, M., Kurek, K. A., & Brommer, M. (2022). Global geothermal industry data collection: A systematic review. Geothermics, 104, 102457.

Net Zero Insights. (2025, September 30). Barriers holding back geothermal energy adoption. https://netzeroinsights.com/resources/barriers-holding-back-geothermal-energy-adoption/

PT PGE LNG. (n.d.). Cara kerja geothermal. https://pgnlng.co.id/berita/wawasan/cara-kerja-geothermal/

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (n.d.). Skema pemanfaatan panas bumi. https://www.pge.pertamina.com/id/skema-pemanfaatan-panas-bumi

Sutriani, W., & Wijayanto, B. (2020). Strategi pengembangan industri energi terbarukan geothermal di Kabupaten Pasaman. GEOSEE, 1(1).




Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Postingan Populer

Arsip Blog