KULIAH UMUM PSP 2026
Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia Universitas Sebelas Maret telah melaksanakan salah satu program kerja dari bidang PSP yaitu Kuliah Umum HMTK 2026. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu, 10 Mei 2026 bertempat di Ruang Sidang Utama Gedung 3 Fakultas Teknik UNS. Kuliah umum ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Sri Darmastuti, S.T. dan Danu Nugroho, S.T., M.Eng., yang membahas mengenai process safety serta penerapan sistem keselamatan dan operasional pada industri migas offshore. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan wawasan kepada mahasiswa Teknik Kimia mengenai pentingnya keselamatan proses industri serta gambaran nyata dunia kerja di sektor minyak dan gas.
Pada sesi pertama, Sri Darmastuti, S.T. memaparkan materi mengenai process safety dan manajemen risiko pada industri proses. Materi diawali dengan pembahasan berbagai kecelakaan industri berskala besar seperti kebakaran di Pertamina Balongan dan tragedi gas Bhopal di India yang menjadi contoh nyata pentingnya penerapan sistem keselamatan dalam industri. Dijelaskan bahwa kecelakaan proses tidak hanya berdampak pada pekerja, tetapi juga dapat menimbulkan kerusakan lingkungan serta korban jiwa di area sekitar industri. Dalam pemaparannya, dijelaskan berbagai istilah penting seperti hazard sebagai sumber bahaya, threat sebagai ancaman, risk sebagai risiko, serta consequence atau impact sebagai dampak yang ditimbulkan. Salah satu contoh hazard yang dibahas adalah Methyl Isocyanate (MIC), zat beracun yang terlibat dalam tragedi Bhopal akibat kebocoran gas dari pabrik pestisida yang berada dekat pemukiman warga. Kegagalan safety barriers seperti tidak berfungsinya cooling system, tidak diterapkannya prevention barrier dengan baik, hingga sirine peringatan yang tidak dinyalakan menjadi faktor utama besarnya dampak tragedi tersebut.
Materi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai berbagai jenis kecelakaan proses seperti Vapor Cloud Explosion (VCE) dan BLEVE (Boiling Liquid Expanding Vapor Explosion). Selain itu, dijelaskan pula bahwa seorang engineer harus mampu mempertimbangkan aspek perlindungan peralatan, pengendalian proses, serta management of change (MOC) agar perubahan pada sistem maupun peralatan tidak meningkatkan potensi kecelakaan.
Dalam penerapan process safety, risk management menjadi bagian yang sangat penting. Proses ini dilakukan melalui identifikasi risiko, penerapan control menggunakan barrier, serta monitoring secara berkelanjutan. Pemateri juga menjelaskan berbagai metode analisis risiko yang umum digunakan di industri, seperti What If Analysis, HAZID, HAZOP, Checklist, hingga Quantitative Risk Assessment (QRA). Metode-metode tersebut digunakan untuk mengidentifikasi potensi bahaya, mengevaluasi safeguards, serta mengukur tingkat risiko baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
Selain itu, dibahas pula mengenai perbedaan occupational safety dan process safety. Occupational safety lebih berfokus pada keselamatan individu pekerja, sedangkan process safety menitikberatkan pada pencegahan kecelakaan besar dalam sistem proses industri. Dalam praktiknya, penerapan keselamatan tidak hanya mengandalkan satu sistem proteksi, tetapi menggunakan konsep multilayer protection dan Safety Integrity Level (SIL) untuk memastikan keandalan sistem keselamatan.
Pemateri juga menjelaskan berbagai konsep penting lain seperti Loss of Primary Containment (LOPC), safeguard system yang meliputi prevention, detection, control, mitigation, dan recovery, hingga pentingnya mechanical integrity dan Pre-Startup Safety Review (PSSR) sebelum fasilitas dioperasikan. Selain itu, dijelaskan bahwa dalam perancangan pabrik, aspek safety harus menjadi prioritas utama mulai dari pemilihan material, desain tekanan operasi, hingga sistem proteksi terhadap overpressure maupun underpressure.
Pada sesi tanya jawab, peserta aktif mengajukan pertanyaan terkait implementasi process safety di industri. Diskusi membahas penggunaan metode kuantitatif dalam analisis risiko, penerapan AI pada occupational safety, standar pelaksanaan HAZOP, hingga sistem proteksi kebakaran di industri migas. Selain itu, pemateri juga memberikan berbagai tips bagi mahasiswa yang ingin berkarier di industri, seperti pentingnya menjaga fit to work, mengikuti sertifikasi pendukung seperti K3 Migas, serta aktif dalam kegiatan organisasi untuk meningkatkan kemampuan kerja sama dan komunikasi.
Memasuki sesi kedua, Danu Nugroho, S.T., M.Eng. memaparkan materi mengenai operasi offshore dan well intervention pada industri minyak dan gas. Dijelaskan bahwa well intervention dilakukan untuk menjaga performa produksi sumur agar tetap optimal. Area kerja offshore mencakup berbagai platform di laut seperti Sisi Nubi, Bekapai, South Mahakam, dan Peciko yang beroperasi menggunakan kapal maupun barge khusus. Dalam operasional offshore, aspek keselamatan menjadi prioritas utama. Permit to Work (PTW) menjadi salah satu prosedur penting yang wajib diterapkan sebelum pekerjaan dilakukan. Selain itu, platform offshore juga dilengkapi berbagai safety system seperti APAR khusus, water sprinkler, life raft, CO₂ system, fire pump, hingga emergency response system untuk mengantisipasi potensi kebakaran maupun kebocoran gas.
Pemateri juga menjelaskan berbagai jenis peralatan dan fasilitas yang terdapat di platform offshore, mulai dari boat landing, cellar deck, mezzanine, hingga upper weather deck. Pada area tersebut terdapat berbagai sistem seperti pig launcher, gas lift scrubber, booster compressor, generator, hingga X-mas tree yang berfungsi mendukung proses produksi minyak dan gas. Selain itu, dijelaskan pula bahwa beberapa platform telah menggunakan solar panel sebagai supporting system untuk menjaga suplai daya pada safety system apabila genset mengalami gangguan.
Materi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai sistem kerja offshore yang berlangsung selama 24 jam menggunakan shift siang dan malam dengan pola kerja 14 hari on dan 14 hari off. Pemateri juga menjelaskan berbagai jenis kompetensi dan sertifikasi yang diperlukan di industri offshore, seperti Basic Safety Training, well control, ANT, ATT, serta berbagai sertifikasi nasional maupun internasional lainnya.
Pada sesi tanya jawab, peserta mengajukan berbagai pertanyaan mengenai proses produksi offshore, pengeboran minyak, proses sementing, hingga pengolahan dry gas dan wet gas. Dijelaskan bahwa proses produksi dilakukan langsung di area offshore menggunakan instalasi dan jalur pipa bawah laut yang mengalirkan hasil produksi menuju darat. Dalam proses pengeboran digunakan water based mud dengan treatment tertentu untuk mencapai specific gravity yang dibutuhkan selama operasi.
Diskusi juga membahas tantangan pengolahan cadangan gas dengan kandungan CO₂ tinggi seperti di Natuna Timur, penggunaan solar panel di platform offshore, hingga peran services company seperti Halliburton, SLB, dan El Nusa dalam kegiatan drilling maupun cementing. Selain itu, dijelaskan pula mengenai penggunaan Blowout Preventer (BOP), sistem kontrol tekanan tinggi hingga 5000 psi, serta pentingnya pengujian berkala untuk mencegah potensi kebocoran gas pada operasi pengeboran.
Dengan diadakannya Kuliah Umum HMTK 2026 ini, diharapkan mahasiswa Teknik Kimia UNS dapat memahami pentingnya penerapan process safety dalam industri proses serta memperoleh gambaran nyata mengenai sistem operasional dan keselamatan kerja pada industri migas offshore. Kegiatan ini juga diharapkan dapat menambah wawasan mahasiswa terkait tantangan dunia industri sekaligus mempersiapkan mereka untuk menghadapi lingkungan kerja profesional yang menuntut kompetensi teknis, kemampuan problem solving, dan kesadaran keselamatan yang tinggi.
