[PRESS RELEASE] DESA BINAAN Sosialisasi Pembuatan Pelet Bahan Bakar dan Briket dari Limbah Tepung Aren

Pada hari Minggu, 7 Juli 2024, telah diadakan sosialisasi dalam rangka menjalankan kegiatan desa binaan yang bertempat di Balai Desa Daleman, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten. Topik yang dibahas pada sosialisasi ini adalah cara memanfaatkan limbah aren menjadi suatu produk yang lebih fungsional, yaitu dengan mengolahnya mejadi pelet bahan bakar dan briket. Peserta yang hadir pada kegiatan sosialisasi ini terdiri dari 15 orang warga Desa Daleman.

 

Kegiatan dimulai pada pukul 09.00 WIB yang diawali dengan demonstrasi pembuatan briket. Selanjutnya sosialisasi dibuka oleh Savina Anisa Syafa'at selaku MC pada pukul 09.15 WIB, yang dilanjutkan dengan pemberian sambutan dan pemaparan materi dari tim desa binaan. Terdapat dua bahasan yang dijelaskan dalam sosialisasi ini, yaitu cara mengolah limbah aren menjadi pelet bahan bakar dan cara mengolah limbah aren menjadi briket. Rangkaian acara selanjutnya adalah demonstrasi pembuatan briket untuk memberikan gambaran kepada masyarakat bagaimana cara yang tepat dalam mengolah limbah tersebut.

Acara kemudian diakhiri dengan sesi tanya jawab terkait materi sosialisasi dari warga Desa Daleman kepada tim desa binaan. Dari adanya sosialisasi ini, diharapkan warga Desa Daleman dapat memahami cara untuk mengatasi permasalahan limbah aren yang ada di Desa Daleman. Selain itu, diharapkan juga sosialisasi ini dapat memberikan wawasan baru terkait inovasi dalam pengolahan limbah aren. Tujuan akhir dari kegiatan ini adalah masyarakat Desa Daleman dapat mulai memanfaatkan limbah aren menjadi produk fungsional seperti pelet bahan bakar dan briket. Kegiatan sosialisasi ini berjalan dengan lancar dan berakhir pada pukul 10.30 WIB.

Share:

[PRESS RELEASE] UPGRADING PENGURUS HMTK FT UNS 2024

Upgrading Pengurus HMTK FT UNS 2024 merupakan acara yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun oleh bidang POSDM HMTK FT UNS. Pada Upgrading tahun ini, acara dilaksanakan selama 2 hari secara offline di Kemuning Resort & Camp, Karanganyar. Acara ini dihadiri oleh 92 pengurus HMTK FT UNS 2024 dan 26 demisioner yang terdiri dari angkatan 2020 dan 2019. Tujuan dari acara ini adalah untuk meningkatkan/mengupgrade dalam hal keakraban antar pengurus, koordinasi  antaranggota, semangat menjalankan program kerja, problem solving , team work, dan yang terpenting diawali dengan individu. 


Rangkaian acara dimulai pada hari pertama yaitu Rabu, 26 Juni 2024 yang dimulai dengan keberangkatan menuju Kemuning Resort & Camp di Kabupaten Karanganyar. Pengurus dibagi menjadi 2 kloter bus. Acara dilanjutkan dengan istirahat hingga pukul 13.00 WIB yang akan diteruskan dengan sesi sambutan dan materi dengan tema “Upgrading” dari pembicara, Dr. Sunu Herwi Pranolo, S.T., M.Sc. Setelah sesi materi dari pembicara, acara selanjutnya yaitu sesi materi oleh demisioner yang dilaksanakan dari pukul 16.15 WIB sampai 17.30 WIB dengan tema “Keorganisasian”. Setelah sesi materi, pengurus HMTK FT UNS 2024  istirahat untuk makan dan keperluan lainnya. Kemudian pada pukul 19.00 WIB, dilaksanakan acara Focus Group Discussion bersama dengan demisioner. Acara di hari pertama diakhiri dengan malam keakraban hingga pukul 22.00 WIB.

Pada hari kedua yaitu Kamis, 27 Juni 2024, acara diawali dengan senam bersama pada pukul 05.30 WIB dan dilanjutkan dengan sarapan. Pukul 07.00 WIB, acara upgrading memasuki acara utama, yaitu outbound guna meningkatkan rasa kekeluargaan di antara pengurus HMTK FT UNS 2024. Pada sesi outbound ini, seluruh pengurus dibagi ke dalam 10 kelompok dan terdiri dari 5 kloter, dimana masing-masing kloter terdiri dari 2 kelompok. Kelima kloter tersebut diwajibkan mencari 5 pos di sekitar resort yang dijaga oleh demisioner dan menyelesaikan tugas di setiap posnya. Selesainya kegiatan outbound menandai berakhirnya acara Upgrading Pengurus HMTK FT UNS 2024. Pukul 11.45 WIB, pengurus bersiap untuk check out dan kemudian berfoto bersama.

Serangkaian kegiatan Upgrading pengurus ini diharapkan dapat dapat meningkatkan kualitas diri, baik dalam hubungan antar pengurus, semangat dalam menjalankan program kerja dan perkuliahan, serta mampu mengevaluasi diri sendiri agar lebih baik kedepannya. Agar seorang individu dapat mengupgrade diri, maka diperlukan persiapan yang  matang, menjalankannya dengan baik, mengevaluasi diri, dan sadar akan kekurangan diri (SWOT). Selain itu, harus ada kesadaran bahwasannya kemampuan harus diupgrade setiap saat dan jangan pernah berhenti usaha.


Share:

[BUTENA 5] Pengembangan Sel Surya Perovskite yang Lebih Efisien dan Lebih Murah Dibandingkan dengan Sel Surya Silikon Konvensional


Material perovskite merupakan senyawa organik-inorganik halida berstruktur ABX3 dimana A merupakan inorganik kation, B merupakan logan kation dan X adalah anion. Struktur senyawa perovskite ini menghasilkan energi band gap yang kecil sehingga dapat dijadikan sebagai penyerap cahaya matahari (absorber). Bagian yang paling berperan penting dalam konversi cahaya matahari menjadi energi listrik pada sel surya adalah absorber atau lapisan aktif. Absorber berperan sebagai penyerap atau pengumpul foton-foton dari cahaya matahari. Untuk mencapai efisiensi yang tinggi pada sel surya maka dibutuhkan absorber yang mampu menyerap foton cahaya matahari sebanyak mungkin. Hal ini dapat dicapai salah satunya dengan penggunaan material dengan celah pita energi rendah seperti MAPbI3 (Ma & Li, 2018).  MAPbI3 merupakan material perovskite organik-anorganik halida yang memiliki potensi sebagai bahan absorber pada sel surya (Choi et al., 2014). Selain itu, material seperti CaTiO3 adalah material dengan struktur perovskite yang dapat digunakan pula.

Basis teknologi sel surya perovskite ini adalah sel surya padat (solid-state) yang merupakan pengembangan dari sel surya DSSC yang pertama kali dilaporkan oleh O'Regan dan Grätzel pada tahun 1991 (Park, 2015). Pada 2019, Kojima menggunakan MAPbI3 (CH3NH3PbI3) untuk menggantikan pewarna organik pada DSSC untuk pertama kalinya dan menghasilkan efisiensi konversi daya sebesar 3,8%. Oleh karena itu, dengan melihat potensi yang dimiliki oleh material perovskite maka MAPbI3 dan CaTiO3 dapat digunakan sebagai material absorber pada aplikasi sel surya.




Gambar 1. Gambar Sel Surya Perovskite

Mekanisme kerja sel surya perovskite melibatkan absorpsi cahaya, fotoeksitasi elektron (proses 1), generasi pembawa muatan, ekstraksi pembawa muatan (transfer dan transport pembawa muatan, (proses 2), dan pengumpulan pembawa muatan (proses 3) seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2 (Xu et al., 2015). Ketika deviasi sel surya perovskite disinari dengan cahaya matahari, maka absorber akan menyerap cahaya tersebut (proses absorpsi cahaya). Selanjutnya elektron pada absorber yang mendapatkan energi yang cukup dari foton akan tereksitasi dari pita valensi absorber ke pita konduksi absorber (fotoeksitasi elektron) dan diikuti dengan proses pembentukan pembawa muatan elektron dan hole (generasi pembawa muatan).


Gambar 2. Skema mekanisme kerja sel surya perovskite

Selanjutnya elektron akan ditransfer ke pita konduksi ETL dan kemudian dikumpulkan di elektroda negatif/katoda (koleksi pembawa muatan). Sementara hole akan ditransfer ke pita valensi HTL dan dikumpulkan di elektroda positif/anoda.  Pengumpulan pembawa muatan negatif di katoda dan pembawa muatan positif di anoda ini menyebabkan level Fermi katoda dan fungsi kerja anoda mengalami pergeseran dan mengakibatkan beda potensial yang signifikan antara kedua elektroda tersebut.  Oleh karena adanya beda potensial ini, maka elektron akan mengalir ke rangkaian luar menjadi arus listrik.  Jika tidak ada rekombinasi pasangan elektron lubang, injeksi muatan dari lapisan absorber perovskite ke material penghantar   elektron dan hole akan berlangsung pada antar muka absorber/ETL dan absorber/HTL (Sharmoukh et al., 2020).

Berikut disajikan data perbedaan antara sel perovskite dibanding sel surya silikon.

Fitur

Sel Surya Perovskite

Sel Surya Silikon

Material

Tersusun dari campuran bahan organik dan anorganik, seperti metilammonium timah iodida (MAPbI3).

Terutama menggunakan silikon sebagai material semikonduktor.

Cara Kerja

Menyerap cahaya dan menghasilkan arus listrik melalui proses fotovoltaik hibrida, yang melibatkan interaksi antara bahan organik dan anorganik.

Menyerap cahaya dan menghasilkan arus listrik melalui proses eksitonik, di mana elektron dan lubang terikat dalam silikon terlepas dan menghasilkan muatan bebas.

Efisiensi Konversi Energi

Potensi lebih tinggi (>25%)

Tinggi (hingga 25%)

Biaya Produksi

Berpotensi lebih murah

Relatif mahal

Stabilitas dan Ketahanan Lama

Masih dalam pengembangan, perlu penelitian lebih lanjut

Sudah teruji dan tahan lama

Skalabilitas dan Produksi Massal

Belum diproduksi massal

Sudah diproduksi massal

Keramahan Lingkungan

Tergantung pada material yang digunakan

Silikon merupakan material yang berlimpah

Fleksibilitas dan Aplikasi

Berpotensi lebih fleksibel dan ringan

Kaku dan berat

 



Tabel 1. Data Perbedaan Antara Sel Perovskite Dibanding Sel Surya Silikon


Keunggulan sel surya perovskite sebagai generasi ketiga yaitu lebih tinggi dibanding generasi pertama dan generasi kedua. Sel surya perovskite bekerja lebih baik pada temperatur tinggi karena mobilitas muatan meningkat ketika temperatur sel surya lebih tinggi. Karena sifatnya yang ringan dan lentur maka penerapannya lebih luas dan bisa diterapkan untuk kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi oleh sel surya silikon. Efisiensi dari sel surya perovskite sebesar 26% lebih tinggi dibanding generasi pertama yang masih memiliki efisiensi sebesar 6% dan generasi kedua efisiensinya sekitar 17% (Setyawan, L., B.,2018)..

Material perovskite organik-inorganik halida ini juga memiliki koefisien absorbsi yang lebih besar dibanding sel surya lain sehingga dapat menyerap lebih banyak cahaya matahari. Panjang difusi yang besar dan energi ikat yang rendah juga menjadi kelebihan lain dari sel surya perovskite ini (Saraswati, E., M., D., dkk,2015).

Langkah awal sintesis sel surya perovskite, yaitu pembuatan sampel yang terdiri dari sintesis TiO2 (TTIP) sebagai ETL, TTIP ke atas kaca ITO dengan menggunakan metode spin coating, pembuatan perovskite sebagai lapisan absorber, pembuatan Spiro-OMeTAD sebagai HTL, penyusunan sel surya perovskite, dan karakterisasi.

Gambar 3. Lapisan Sel Surya yang Dibentuk oleh Prosedur Pembuatan Sampel

 

1.             1. Sintesis TiO2 (TTIP)

    Pembuatan TiO2 ini dibuat menggunakan precursor titanium tetraisopropoxide (TTIP), propanol, asam asetat (CH3COOH), dan Triton X-100. Tahapan dalam proses ini dibagi menjadi 2. Tahap satu dengan pencampuran titanium tetraisopropoxide (TTIP) 10 ml dengan propanol 40 ml lalu diaduk menggunakan magnetic stirrer dengan kecepatan putaran sebesar 5000 rpm selama 30 menit. Tahap dua dimulai dengan pencampuran asam asetat (CH3COOH) sebanyak 5 ml dengan propanol sebanyak 10 mL dan diteteskan oleh Triton x-100 sebanyak 15 tetes dan diaduk menggunakan magnetic stirrer selama 30 menit. Selanjutnya menggabungkan hasil dari tahap 1 ke tahap 2 dengan pengadukan menggunakan magnetic stirrer dengan kecepatan putaran sebesar 5000 rpm selama 120 menit sampai berbentuk pasta.

2.             2. Deposisi Lapisan Film Tipis TiO2

    Pasta TiO2 yang telah disiapkan kemudian dioleskan pada bagian atas substrat ITO sampai tersebar merata pada permukaan subtrat, digunakan metode spin coating. Ketebalan divariasikan menggunakan metode ini dengan memvariasikan banyaknya nilai putaran rpm yang digunakan pada setiap sampel. Setelahnya, dilakukan tahap sintering menggunakan furnace yang dipanaskan pada suhu 4000°C selama 30 menit. Film tipis TiO2 yang sudah selesai di sintering kemudian diukur menggunakan mikrometer sekrup digital untuk diukur ketebalannya.

3.                3. Sintesis Perovskite CH3NH3PbI3

    Pembuatan perovskite ini dibuat menggunakan bahan Methylammonium Iodide (MAI), lead (II) Iodide (PbI2), Dimetil Formide (DMF), dan Dimetil Sulfokside (DMSO). Tahapan yang dilakukan adalah dengan menimbang bahan kering Methylammonium Iodide (MAI) sebanyak 190,7 mg dan PbI2 sebanyak 553,2 mg kemudian ditambahkan bahan pelarut yaitu Dimetil Formide (DMF) sebanyak 100 μl dan Dimetil Sulfokside (DMSO) sebanyak 900 μl ke dalam botol sampel. Lalu, diaduk menggunakan magnetic stirrer dengan kecepatan putaran sebesar 5000 rpm selama 2 jam sampai terlarut.

4.     \        4. Preparasi Pembuatan Sel Surya Perovskite

    Film tipis TiO2 yang sudah selesai di sintering kemudian ditempelkan selotip heat resistant tape dengan ukuran 1x1 cm2 di atas substrat ITO untuk melakukan deposisi perovskite. Meneteskan 1 tetes (8 μl) perovskite ke atas film tipis TiO2 menggunakan metode spin coating dua langkah, dengan langkah pertama adalah 40 detik dengan putaran 2000 rpm dan tahap spin coating kedua selama 20 detik dengan putaran 6000 rpm. Lalu, di sintering menggunakan oven pada suhu 1000°C selama 10 menit lalu diamkan. Setelah itu melakukan deposisi untuk lapisan Spiro-OMeTAD dengan meneteskan 1 tetes (8 μl) Spiro-OMeTAD ke atas film tipis ITO-TiO2-perovskite, menggunakan metode spin coating dua langkah, lalu di sintering menggunakan oven pada suhu 100°C selama 10 menit untuk selanjutnya dilakukan karakterisasi (Rastiadi, H., A., Suhendi, E., & Prima, E., C.,2023).

Sel surya perovskite memiliki potensi besar untuk menjadi solusi utama dalam pemanfaatan energi terbarukan di masa depan. Dengan efisiensi konversi energi yang sudah mencapai lebih dari 25%, teknologi ini menjanjikan peningkatan kinerja yang signifikan dibandingkan dengan sel surya silikon konvensional. Selain itu, biaya produksi yang lebih rendah dan nyaman dalam aplikasi memungkinkan sel surya perovskit untuk digunakan dalam berbagai kebutuhan, termasuk perangkat elektronik portabel dan instalasi di permukaan yang tidak konvensional. Dalam jangka panjang, dengan peningkatan stabilitas dan ketahanan material melalui penelitian dan pengembangan lebih lanjut, sel surya perovskit diharapkan dapat diproduksi secara massal dan menjadi komponen kunci dalam transisi global menuju sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. Peningkatan kemampuan produksi dan penurunan biaya akan membuat teknologi ini semakin terjangkau dan menarik bagi masyarakat luas, membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menurunkan emisi karbon secara signifikan.


Share:

[PRESS RELEASE] Rapat Koordinasi 2 2024

 


Pada hari Selasa, 25 Juni 2024, HMTK FT UNS melaksanakan kegiatan Rapat Koordinasi 2 yang dilaksanakan di Ruang Sidang Utama Gedung 3 Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret. Kegiatan ini diikuti oleh 94 peserta, yang terdiri dari 93 orang pengurus HMTK FT UNS dan 1 orang BSO HMTK. Kegiatan ini berlangsung dari pukul 10.03 hingga 12.55 WIB.

Rapat koordinasi 2 diawali dengan penayangan video Safety Induction yang kemudian dilanjutkan pembukaan oleh MC, Nesya Nazma Anjani. Acara dilanjutkan dengan Pemutaran lagu Indonesia Raya dan Mars HMTK. Selanjutnya diteruskan acara sesi pembahasan tiap bidang. Sesi berikutnya dari Rapat Koordinasi 2, yaitu sesi pembahasan tiap bidang yang dipimpin oleh Muhammad Rizqi selaku Ketua Umum HMTK FT UNS Periode 2024. Sesi pertama adalah Sesi Ketua Umum, dilaksanakan pada pukul 10.14-10.22 WIB. Sesi berikutnya adalah sesi tiap-tiap bidang yang berisi pembahasan mengenai proker yang akan dijalankan setengah periode kedepan. Bidang Sekretaris dilaksanakan pukul 10.22-10.40 WIB, lalu bidang Medinfo yang dilaksanakan pukul 10.40-11.00 WIB. Setelah itu, sesi dilanjutkan oleh bidang Bendahara pada pukul 11.00-11.08 WIB. Pada pukul 11.08-11.20 WIB, dilanjutkan sesi bidang Humas kemudian pada pukul 11.20–11.42 WIB dilanjutkan bidang POSDM. Lalu, dilanjutkan kembali pada pukul 11.46-12.00 WIB yaitu  pemaparan bidang PMB. Kemudian, pukul 12.00-12.22 WIB berisi pemaparan bidang Kewirausahaan yang dilanjutkan bidang dari HMTK yang terakhir yaitu Akademis pada pukul 12.22-12.40 WIB. Setelah sesi dari tiap-tiap bidang di HMTK dipaparkan, sesi dilanjutkan dengan pembahasan terkait BSO yaitu BSO ECODAYS pada pukul 12.43-12.51 WIB. Terakhir, acara ditutup dengan sesi dokumentasi. 

Dengan diselenggarakan Rapat Koordinasi 2, diharapkan saran dan masukan mengenai proker dan nonproker yang telah disampaikan dapat dilaksanakan kedepannya.


Share:

CHEMAGZ 2024 Edisi 1

CHEMAGZ 2024 1st Edition




Share:

[PRESS RELEASE] Rapat Pleno Tengah FT UNS 2024

 




Pada hari Sabtu, 22 Juni 2024, Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia Fakultas Teknik UNS melaksanakan Rapat Pleno Tengah yang dilaksanakan secara luring di Ruang Sidang Utama Gedung 3 Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret. Kegiatan ini diikuti oleh 94 orang pengurus HMTK FT UNS. Rapat Pleno Tengah berlangsung dari pukul 13.08 sampai 17.10 WIB. 

Rapat Pleno Tengah dibuka oleh MC, Vanesa Saghita Putridiawali, Mahasiswa S-1 Teknik Kimia angkatan 2023, kemudian dilanjutkan dengan penayangan video Safety Induction. Acara dilanjutkan dengan Pemutaran lagu Indonesia Raya dan Mars HMTK. Selanjutnya, sesi pembahasan program kerja yang telah dilaksanakan oleh tiap bidang selama setengah periode. Pemaparan program kerja diawali dengan Sesi Ketua Umum HMTK FT UNS Periode 2024 Muhammad Rizqi, yang dilanjutkan dengan sesi pemaparan tiap bidang di HMTK baik itu yang bersifat proker maupun non proker. Sesi dimulai dari bidang Sekretaris dan diikuti bidang-bidang lainnya seperti Medinfo, bidang Kewirausahaan, bidang Akademis, bidang Humas, bidang Bendahara, bidang PMB, dan bidang POSDM.

Rapat Pleno Tengah ditutup dengan sesi dokumentasi. Dengan diadakannya Rapat Pleno Tengah, diharapkan dapat menjadi sarana untuk menyalurkan saran dan masukan mengenai proker dan nonproker yang akan dilaksanakan setengah periode kedepan.            

        



Share:

[BUTENA 4] Kelayakan Pengedaran Minyak Sawit Merah di Indonesia

Pada tahun 2019, Indonesia menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia dengan total produksi mencapai 36,17 juta ton (Dirjen Perkebunan, 2020). Buah kelapa sawit terdiri dari 80% bagian perikarp (epikarp dan mesokarp), yang menghasilkan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil, CPO), dan 20% biji (endokarp dan endosperm), yang menghasilkan minyak inti sawit (Palm Kernel Oil, PKO). Untuk mendukung peningkatan produksi dan konsumsi lemak serta minyak sawit, diperlukan pengolahan minyak sawit yang dapat menghasilkan berbagai macam produk berbasis sawit (Deny Sumarna, 2017).

Minyak sawit merah (MSM) adalah produk turunan dari minyak sawit mentah (CPO), yang masih mengandung karoten dalam jumlah tinggi yang berfungsi sebagai provitamin A. Minyak sawit merah kurang diminati oleh masyarakat karena warnanya yang merah tua, yang disebabkan oleh kandungan karotenoid. MSM juga memiliki aroma yang langu, dan kurang tahan terhadap suhu tinggi. Oleh karena itu, diperlukan adsorben seperti zeolit yang diaktivasi dengan asam klorida untuk mengurangi aroma langu pada MSM. Untuk menghasilkan MSM, minyak sawit mentah diproses melalui penyulingan tanpa melanjutkan tahapan lainnya seperti pada pembuatan minyak goreng pada biasanya.

Kurangnya konsumsi vitamin A di kalangan masyarakat Indonesia merupakan masalah kesehatan yang perlu segera diatasi. Menurut WHO, sekitar 40% populasi dunia menderita kekurangan vitamin A (KVA), terutama wanita hamil dan menyusui, serta anak-anak di bawah lima tahun. Di Indonesia, KVA mempengaruhi sekitar 20-40 juta orang, yang menyebabkan daya tahan tubuh anak-anak menurun. Salah satu sumber provitamin A yang dapat dimanfaatkan adalah minyak sawit merah (MSM). MSM dapat membantu mencegah stunting karena mengandung fitonutrien seperti vitamin A, vitamin E, squalene, asam oleat dan asam linoleat. Komposisi ini dapat meningkatkan metabolisme tubuh, perkembangan otak, mencegah penyakit kardiovaskular, dan mendukung perkembangan anak.

Perbandingan antara minyak sawit merah dan minyak nabati lainnya dapat dilihat dari karakteristik dan kandungannya. Minyak sawit merah (MSM) memiliki kadar kolesterol dan lemak jenuh yang lebih tinggi, serta memiliki rasa yang getir dan aroma khas dibandingkan dengan minyak nabati lainnya. Minyak nabati yang tersedia di pasaran biasanya terlihat lebih menarik karena warnanya, tetapi telah kehilangan sebagian besar fitonutrien yang bermanfaat bagi tubuh. Sebaliknya, minyak sawit merah mempertahankan fitonutrien tersebut melalui teknologi yang lebih sederhana. MSM telah tersebar di berbagai wilayah, termasuk pabrik minyak makan merah (3M) pertama di Indonesia yang berlokasi di Pagar Merbau, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Pabrik ini telah memenuhi standar SNI, mendapat izin edar dari BPOM, dan memiliki sertifikat halal dari BPJPH.




Gambar 1. Peresmian Pabrik Minyak Makan Merah (3M) Pertama di Indonesia


Proses pengolahan minyak sawit menjadi minyak goreng komersial di industri pangan biasanya melibatkan beberapa tahap pemurnian, yaitu pemisahan gum (degumming), netralisasi (deasidifikasi), pemucatan (bleaching), dan deodorisasi. Proses bleaching dilakukan pada suhu 90-105℃ menggunakan bleaching earth (Basiron et al., 2000). Tujuan pemurnian minyak adalah untuk menghilangkan warna, rasa, dan bau yang tidak diinginkan serta memperpanjang masa simpan minyak sebelum dikonsumsi atau digunakan sebagai bahan baku industri (refined, bleached, and deodorized process). Namun, β-karoten yang terdapat pada CPO sering kali tidak dimanfaatkan dan bahkan terbuang selama proses dekolorisasi (Robiyansyah et al., 2017). Jika proses pemurnian dilakukan tanpa tahap bleaching, akan dihasilkan minyak sawit merah yang kaya akan beta-karoten. Berbeda dengan minyak goreng komersial, proses pengolahan MSM terdiri dari 3 tahap, yaitu degumming, netralisasi/deasidifikasi, dan fraksinasi. Urutan tahapan dalam proses konservasi dapat mempengaruhi kualitas minyak sawit merah yang dihasilkan. Ada tiga metode dalam mengubah MSM, yaitu: Degumming-Netralisasi-Fraksinasi, Fraksinasi-Degumming-Netralisasi, dan Fraksinasi-Netralisasi. Teknik pengolahan dengan urutan proses Fraksinasi-Netralisasi menghasilkan minyak sawit merah fraksi olein dengan karakteristik paling baik (kadar air 0,08%, asam lemak bebas 0,17%, bilangan iod 50,79 g I2/100g, dan bilangan peroksida 50,79 mg O/100 g). (Sumarna et al., 2017).

Proses pengolahan minyak sawit merah (MSM) menggunakan batuan zeolit dimulai dengan tahap degumming sebelum dilakukan filtrasi melalui proses koagulasi. Hal ini bertujuan untuk mengikat gum dan menetralkan CPO agar mencapai pH netral. Gum merupakan senyawa atau zat yang tidak diinginkan yang terbentuk selama proses produksi, biasanya terdiri dari fosfolipid, protein, karbohidrat, dan residu lainnya yang dapat mempengaruhi kualitas minyak sawit. 

Tahap filtrasi diatur dengan langkah-langkah berikut: melalui filter batuan zeolit, membran keramik, dan cartridge filter, dengan variasi suhu 40℃, 60℃, dan 80℃ serta tekanan 5 bar. Semua kotoran seperti getah, asam lemak bebas, bau yang tidak diinginkan, dan senyawa lainnya dihilangkan dalam proses ini (Afrizal et al., 2022).

Adapun kelebihan dari minyak sawit merah yaitu mengandung vitamin E, provitamin A, skualena, dan komponen minor lainnya, yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Minyak makan sawit merah tidak hanya sebagai minyak goreng, tetapi juga suplemen makanan yang dapat dikonsumsi langsung. Warnanya yang merah menandakan kandungan karotenoidnya yang tinggi. Minyak ini juga kaya akan fitonutrien seperti tokoferol, tokotrienol, dan asam lemak yang bermanfaat. Di samping itu, minyak tersebut memiliki rasa dan bau yang menyengat sehingga tidak memiliki banyak peminat seperti minyak tropis populer lainnya (minyak kelapa). Selain itu, proses produksinya yang tidak melalui penyulingan atau bleaching menunjukkan bahwa minyak ini tidak terbebas dari dampak negatif.

Potensi minyak sawit merah di masa depan sangat besar dalam bidang pangan fungsional dan nutrasetikal, menjadikannya produk pangan yang dapat meningkatkan kesehatan manusia. Minyak sawit merah mengandung berbagai senyawa yang bermanfaat bagi tubuh sehingga memiliki peluang besar untuk menjadi bahan olahan yang dapat meningkatkan kondisi pangan di Indonesia. Pengembangan minyak sawit merah sebagai produk pangan diharapkan dapat membantu mengatasi masalah stunting di Indonesia.



Gambar 2. Contoh Produk Pangan Minyak Sawit Merah (MSM)
















Share:

Postingan Populer

Arsip Blog