KULIAH UMUM 2024


           Kuliah Umum 2024 adalah program kerja bidang akademis HMTK FT UNS. Kuliah Umum 2024 periode tahun ini dilaksanakan pada tanggal 23 Maret 2024. Amanda Puspitaningrum selaku Ketua Pelaksana Kuliah Umumn 2024 Kuliah Umum kali ini mengambil tema “Sustainable Nanotechnology: Revolutionizing Waste Management Through Green Chemistry” yang menghadirkan Prof. Indriana Kartini, S.Si., M.Si., Ph.D. sebagai narasumber. Acara ini dihadiri oleh pihak internal FT UNS maupun pihak eksternal FT UNS, dengan total peserta Kuliah Umum yang hadir mencapai 124 peserta.

            Open registrasi acara dimulai pada pukul 08:00 WIB. Pada pukul 09:00 acara dibuka oleh Naila Rasya Faiza teknik kimia 2023 selaku moderator. Kuliah umum diawali dengan penayangan safety induction, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan sambutan-sambutan, pemberian materi oleh narasumber, dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, dan pembagian doorprize. Kuliah Umum ditutup dengan sesi dokumentasi pada pukul 12:14 WIB.

            Diselenggarakannya kuliah umum  ini  diharapkan tersampaikannya wawasan mengenai peran nanoteknologi dalam pengelolaan limbah dengan penerapan prinsip-prinsip kimia hijau dan Meningkatnya minat peserta untuk mempelajari nanoteknologi dalam pengelolaan limbah dengan penerapan prinsip-prinsip kimia hijau.

 

Share:

[BUTENA 2] Carbon Capture and Storage (CCS)

 

International Energy Agency (IEA) menyatakan bahwa volume emisi CO2 akibat pembakaran bahan bakar fosil mencapai 56% dari total semua emisi global, dengan pembangkit listrik batubara (PLTB) sebagai sumber emisi utama yang mencapai lebih dari 60%. Untuk mengurangi emisi CO2 dalam jumlah besar, pengendalian (penangkapan CO2) yang dihasilkan dalam gas buang dari pembangkit listrik adalah logis. Tetapi, pengendalian ini tidak semudah yang dibayangkan karena gas buang tersebut memiliki karakteristik bertekanan rendah dan konsentrasi CO2 yang rendah, yang memerlukan proses tambahan yang membutuhkan energi cukup besar untuk pemisahannya.

Carbon Capture and Storage (CCS) adalah salah satu upaya mitigasi terhadap perubahan iklim atau pemanasan global sebagai akibat meningkatnya emisi gas rumah kaca. Peningkatan emisi gas rumah kaca ini terutama diakibatkan oleh aktifitas manusia seperti pembakaran hutan dan kegiatan industri, misalnya industri migas dan industri petrokimia. Gas CO2 merupakan gas rumah kaca yang paling menonjol yang dihasilkan oleh berbagai kegiatan manusia, yang konsentrasinya di atmosfer makin meningkat seiring dengan bertambahnya berbagai kegiatan industri.

Efektifitas CCS dapat mencapai efisiensi yang tinggi dalam menangkap karbon dioksida (CO2) dari gas buang pembangkit listrik atau pabrik. Sebagian besar proyek CCS mencapai efisiensi 90%, yang berarti sekitar 90% dari CO2 yang dihasilkan dapat dijangkau dan disimpan. CCS juga mengurangi emisi CO2 dari sumber-sumber emisi terpisah, yang berperan dalam mengurangi dampak perubahan iklim. Sebagai contoh, pengendalian CCS dapat digunakan untuk mengurangi emisi CO2 dari pembangkit listrik batubara (PLTB).

Fungsi dan urgensi Carbon Capture and Storage (CCS) adalah untuk mengurangi emisi karbon dioksida (CO2) ke atmosfer dan membantu menekan dampak perubahan iklim. CCS merupakan teknologi yang berupaya untuk memisahkan CO2 dari gas buang pembangkit listrik atau pabrik, mengalirkan gas CO2 yang ditangkap ke lokasi penyimpanan, dan menyimpan karbon di bawah permukaan bumi, seperti formasi batuan yang tidak terkonsolidasi atau lapangan minyak yang sudah habis. Manfaat dari CCS antara lain:

1. Mengurangi emisi gas rumah kaca, terutama CO2, yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil.

2. Mempertahankan penggunaan sumber daya energi fosil dalam mix pembangkit listrik atau pabrik besar.

3. Memacu inovasi dalam teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon, yang membuka peluang untuk pengembangan solusi yang lebih efisien dan ekonomis.

CCS dapat dilakukan dengan beberapa metode, antara lain:

1. Penginjeksian CO2 ke dalam batuan reservoir (batuan yang mampu menyimpan dan mengalirkan hidrokarbon) pada ladang-ladang migas untuk kepentingan menyimpan CO2 sekaligus meningkatkan produksi minyak. Teknologi ini dikenal dengan nama teknologi EOR (Enhanced Oil Recovery). Teknologi ini diterapkan pada sumur-sumur migas yang sudah lemah tenaga waduknya (reservoir drive), atau dikenal dengan nama depleted reservoir. Namun, terdapat kelemahan dari teknologi ini yaitu risiko kebocoran CO2 dari batuan reservoir dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, pengurangan kapasitas penyimpanan karena kemungkinan terjadinya rekahan atau pergerakan batuan dan biaya yang tinggi terkait dengan pemantauan, pemodelan, dan verifikasi penyimpanan CO2.

2. Penginjeksian CO2 ke dalam batubara yang tak dapat diambil (unmineable coal). Penginjeksian ini dimaksudkan untuk menyimpan CO2 sekaligus untuk meningkatkan produksi CBM (Coal Bed Methane).

Kelemahan metode ini yaitu risiko potensial terhadap lingkungan jika terjadi kebocoran CO2 dari penyimpanan dalam batubara, diperlukan teknologi yang canggih untuk memastikan penyimpanan CO2 yang aman dan efektif dan biaya investasi awal yang tinggi dan biaya operasional yang terus menerus.

3. Penginjeksian CO2 ke dalam akuifer. Akuifer adalah lapisan bawah tanah yang mengandung air dan mampu mengalirkan air. Penginjeksian ini semata-mata untuk keperluan penyimpanan CO2 tanpa ada maksud untuk meningkatkan produksi migas ataupun CBM. Penginjeksian ini dapat dipandang aman apabila penginjeksian CO2 sekadar menggantikan CO2 yang telah hilang selama produksi minyak-bumi.

Kelemahan dari metode ini yaitu kemungkinan pencemaran sumber daya air bawah tanah jika terjadi kebocoran CO2, diperlukannya pemahaman yang mendalam tentang geologi dan hidrologi lokal untuk memastikan keberhasilan penyimpanan dan biaya yang tinggi terkait dengan pemantauan dan pemeliharaan jangka panjang.

4. Pemerangkapan atau karbonasi mineral dengan menggunakan batuan ofiolit atau batuan basa-ultrabasa. CO2 di atmosfer akan bereaksi dengan batuan ofiolit dengan membentuk mineral karbonat. Sebenarnya reaksi ini secara alami sudah berlangsung, namun diperlukan waktu yang lama sekali untuk dapat terjadinya reaksi antara gas CO2 di atmosfer dengan batuan ofiolit. Oleh karena itu pada saat ini berbagai ahli sedang melakukan penelitian untuk mempercepat proses reaksi tersebut (Bachri, 2008; 2010).

            Dalam penentuan yang lebih efektif, perlu mempertimbangkan keseimbangan antara kapasitas penyimpanan, keamanan, biaya, dan dampak lingkungan dari setiap metode. Tidak ada jawaban yang satu ukuran cocok untuk semua, karena efektivitasnya akan bervariasi tergantung pada kondisi lokal dan tujuan mitigasi emisi CO2 yang ditetapkan. Oleh karena itu, penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh berdasarkan faktor-faktor tersebut sebelum memilih metode yang paling sesuai dalam konteks tertentu.


Carbon capture and storage (CCS) telah diterapkan dalam industri:

1. Pabrik semen, digunakan untuk mengurangi emisi CO2 dari proses penggilingan dan pembakaran.

2. Industri Petrokimia, digunakan untuk mengurangi emisi CO2 dari proses pengolahan dan pemurnian.

3. Industri Minyak dan Gas, digunakan untuk mengurangi emisi CO2 dari proses produksi dan pengolahan.

Dalam setiap industri tersebut, CCS digunakan untuk mengurangi emisi CO2 dan membantu mengurangi dampak perubahan iklim. Untuk mengurangi emisi CO2, CCS melibatkan proses penangkapan, transportasi, dan penyimpanan karbon. Penangkapan melibatkan pemisahan CO2 dari gas buang, transportasi melibatkan pengangkutan gas CO2 ke lokasi penyimpanan, dan penyimpanan melibatkan pemindahan CO2 ke bawah permukaan bumi atau lapisan batuan. Setelah CO2 disimpan melalui proses penangkapan, transportasi, dan penyimpanan karbon (CCS), langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa CO2 tersebut tetap terisolasi dari atmosfer untuk mencegah dampaknya terhadap perubahan iklim.

Walaupun begitu CCS memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Kelebihannya antara lain:

1. CCS membantu mengurangi emisi CO2 dari sumber-sumber emisi, yang berperan dalam mengurangi dampak perubahan iklim.

2. CCS membantu mempertahankan penggunaan sumber daya energi fosil dalam mix pembangkit listrik atau pabrik besar, yang membantu mengurangi penggunaan bahan bakar fosil yang memiliki dampak negatif terhadap lingkungan.

3. Pengembangan dan implementasi CCS memacu inovasi dalam teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon, yang membuka peluang untuk pengembangan solusi yang lebih efisien dan ekonomis.

Dibalik kelebihannya, CCS juga memiliki beberapa kekurangan, antara lain:

1. CCS dikendalikan sebagai proses yang relatif mahal, yang membuatnya tidak ekonomis untuk beberapa industri.

2. CCS hanya mengurangi emisi CO2 dari sumber-sumber emisi terpisah, yang tidak mengurangi emisi yang disumbang oleh penggunaan bahan bakar fosil lainnya.

3. Proses penangkapan CO2 dari gas buang memerlukan energi yang cukup besar, yang dapat meningkatkan emisi jika energi yang digunakan berasal dari sumber daya fosil.

            CCS merupakan teknologi yang digunakan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca CO2 ke atmosfer. Dengan menangkap CO2 dari sumber-sumber besar emisi, seperti pembangkit listrik tenaga batu bara dan industri, serta menyimpannya di bawah permukaan bumi, CCS dapat membantu mengurangi kontribusi manusia terhadap perubahan iklim. Proses CCS melibatkan tiga tahap utama, penangkapan CO2 dari gas buang, transportasi CO2 ke lokasi penyimpanan, dan penyimpanan CO2 di bawah permukaan bumi atau dalam formasi batuan yang cocok. Ini adalah pendekatan yang komprehensif untuk mengelola emisi CO2.

Implementasi CCS memerlukan pengembangan infrastruktur yang besar, termasuk instalasi penangkapan CO2, jaringan pipa untuk transportasi CO2, dan fasilitas penyimpanan. Investasi dalam infrastruktur ini merupakan bagian penting dari penerapan CCS secara luas. Dengan pengembangan teknologi, peningkatan infrastruktur, serta dukungan kebijakan yang tepat, CCS memiliki potensi untuk berkontribusi secara signifikan dalam upaya global untuk mengurangi emisi CO2 dan memperlambat laju perubahan iklim. Namun, kesuksesannya akan sangat tergantung pada implementasi yang efektif dan berkelanjutan di seluruh dunia. 

Share:

RAPAT KERJA TERBUKA HMTK FT UNS PERIODE 2024

Rapat Kerja Terbuka (RKT) HMTK FT UNS diadakan pada hari  Minggu, 10 Maret 2024. Rapat ini diadakan secara hybrid di Ruang Sidang Utama gedung 3 Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret dan melalui zoom. Acara ini dihadiri oleh 90 orang pengurus HMTK, anggota HMTK dan demisioner HMTK FT UNS, dengan total 104 peserta RKT yang ikut dalam forum. Acara ini telah dibuka pada pukul 09:19 WIB dan ditutup pada pukul 17:00 WIB oleh Pembawa acara Nesya Najma Anjani Teknik Kimia angkatan 2023. Acara ini diawali dengan penayangan safety induction, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Teknik Kimia.

Acara ini dipimpin oleh Muhammad Rizqi selaku Ketua Umum HMTK FT UNS Periode 2024,  dengan dibagi menjadi beberapa sesi yang diawali dengan pembahasan visi-misi dan BSO oleh ketua umum  setiap bidang. Dilanjutkan dengan pemaparan program kerja dan non program kerja  masing-masing bidang, mulai dari sekretaris, bendahara, PMB, POSDM, Akademis, Medinfo, Humas, Ecodays, Chem-E-car, dan KWU. Pada rapat ini anggota HMTK, demisioner memberikan kritik dan saran pada program kerja masing-masing bidang, sesi memberi kritik dan saran tersebut telah diterima dengan baik dan berjalan dengan lancar. Acara ini ditutup dengan sesi dokumentasi bersama.

Dengan diselenggarakan Rapat Kerja Terbuka, diharapkan dapat menjadi sarana dalam membahas dan menetapkan program kerja, juga sebagai sarana bagi anggota HMTK untuk menyalurkan kritik dan saran terkait program kerja HMTK yang akan berjalan.



Share:

PELATIHAN ADMINISTRASI HMTK FT UNS 2024


Pada hari Sabtu, 2 Maret 2024, HMTK FT UNS menggelar acara pelatihan administrasi. Pelatihan administrasi ini merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh HMTK FT UNS yang ditujukan kepada seluruh pengurus HMTK FT UNS dan BSO HMTK FT UNS untuk menambah pengetahuan dan informasi mengenai keadministrasian yang berguna untuk membantu menjalankan program kerja. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang 1313 dan 1314 Gedung 1 Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret. Acara ini dihadiri oleh pengurus HMTK FT UNS Periode 2024 dan Badan Semi Otonom HMTK FT UNS. 


Acara dibuka oleh MC Anandya Fatin Nabila dan Vanesa Saghita Putridan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh sekretaris HMTK FT UNS dan pelatihan mailings surat oleh sekretaris 1 dan sekretaris 3 HMT FT UNS. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh bendahara dan pelatihan Microsoft Excel untuk membuat RAB oleh bendahara umum HMTK FT UNS. Acara selanjutnya yaitu sesi tanya jawab dan dilanjutkan dengan pengerjaan kuis oleh para peserta pelatihan administrasi. Hal ini dilakukan untuk menguji pemahaman dan kompetensi peserta pelatihan administrasi. Acara berakhir dengan sesi dokumentasi dan penutupan oleh panitia.


Pelatihan Administrasi untuk seluruh pengurus HMTK FT UNS dan BSO HMTK FT UNS diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai keadministrasian sekretaris dan bendahara demi kelancaran program kerja HMTK FT UNS serta memperbarui atau menambah hardskill dari peserta Pelatihan Administrasi.

Share:

[PRESS RELEASE} Pelantikan Pengurus HMTK 2024

 

Pada hari Minggu, 3 Maret 2024, Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia FT UNS telah menyelenggarakan kegiatan “Pelantikan Pengurus HMTK FT UNS Periode 2024” yang bertempat di Ruang Multimedia (RMM) Gedung 4 Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret. Acara ini dihadiri oleh calon pengurus HMTK FT UNS Periode 2024, perwakilan BEM FT UNS, perwakilan Ormawa HMPWK, perwakilan HMA, perwakilan Ormawa Ajusta Brata, dan Mahasiswa S-1 Teknik Kimia UNS. Acara dibuka oleh Angelina Putri Jehovani selaku MC pada pukul 09.00 WIB.

Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan pemutaran lagu Indonesia Raya dan Mars HMTK. Rangkaian acara selanjutnya adalah sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh Muhammad Ghozy Izzulhaq selaku Ketua Umum HMTK FT UNS Periode 2023 berupa ucapan selamat atas dilantiknya pengurus HMTK Periode 2024 dan juga motivasi untuk kepengurusan HMTK satu periode kedepan. Dilanjutkan dengan sambutan kedua oleh Kepala Program Studi S-1 Teknik Kimia yang berisi ucapan terima kasih kepada kepengurusan HMTK periode sebelumnya dan ucapan selamat atas dilantiknya kepengurusan HMTK Periode 2024.

Acara selanjutnya yaitu serah terima jabatan dari Muhammad Ghozy Izzulhaq kepada Muhammad Rizqi selaku Ketua Umum HMTK FT UNS Periode 2024 dan dilanjutkan dengan penyampaian kesan dan pesan. Berikutnya adalah pelantikan Ketua Umum HMTK FT UNS Periode 2024 oleh Presiden BEM FT UNS 2024 yaitu Muhammad Hafizh Fatihurrizqi. Kemudian, diteruskan dengan pembacaan SK Pelantikan Pengurus oleh Ketua Umum HMTK FT UNS Periode 2024. Dengan dibacakannya SK Pelantikan Pengurus ini, maka telah resmi dilantiknya 97 pengurus HMTK FT UNS Periode 2024. Rangkaian acara selanjutnya adalah pembacaan sumpah dan janji pengurus HMTK FT UNS Periode 2024 oleh Ketua Umum HMTK FT UNS Periode 2024, diikuti oleh semua pengurus HMTK FT UNS Periode  2024. 

Selanjutnya adalah pembacaan berita acara Pelantikan Pengurus HMTK Periode 2024 dan dilanjutkan sambutan oleh Ketua Umum HMTK FT UNS Periode 2024. Kemudian, acara berikutnya adalah pembacaan doa yang dipimpin oleh Syaamil Muhammad Abdurrahman. Rangkaian acara terakhir adalah penutupan dan sesi dokumentasi.

Dengan dilantiknya pengurus HMTK FT UNS Periode 2024, diharapkan pengurus yang baru akan membawa keberlanjutan HMTK menjadi lebih baik lagi dan memberi manfaat lebih banyak terhadap Program Studi S-1 Teknik Kimia FT UNS, baik mahasiswa, alumni, maupun masyarakat umum. Dengan adanya HMTK periode 2024, diharapkan dapat memaksimalkan perannya menjadi wadah bagi mahasiswa S-1 Teknik Kimia FT UNS dalam menyalurkan minat, bakat, soft skill, serta meningkatkan pengalaman berorganisasi. 

Share:

[PRESS RELEASE] Wisuda Prodi Februari 2024

Wisuda Prodi Februari 2024 dilaksanakan pada hari Jumat, 23 Februari 2024 pada pukul 14.30 s.d. 16.15 WIB secara luring di Ruang Sidang Utama Gedung 3 Fakultas Teknik UNS. Acara ini dihadiri oleh Kepala Program Studi, 5 Wisudawan, 64 pengurus HMTK FT UNS, dan 56 Mahasiswa Aktif S-1 Teknik Kimia dari angkatan 2019 – 2023. Acara ini dibuka oleh MC yaitu Qonitah Naufal Dahbul, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars HMTK.

Acara selanjutnya yaitu sambutan. Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua Pelaksana Wisuda Prodi Periode Februari, Akmal Mazid Abdullah, dan dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Program Studi S-1 Teknik Kimia, Dr. Joko Waluyo, S.T., M.T. Sambutan yang terakhir disampaikan oleh perwakilan Wisudawan, Achmad Tegar Romadhoni, S.T. Acara selanjutnya adalah acara inti yaitu pelepasan wisudawan yang dipandu oleh MC dan Kaprodi. Wisudawan pada periode ini berjumlah 5 orang, yaitu Achmad Tegar Romadhoni, S.T., Agnestasia Milenia Putri Kurniawan, S.T., Indhira Sukma Maharani, S.T., Khoirunnisa Utami, S.T., dan Nur Isnaeni, S.T.

Setelah pelepasan wisudawan, acara dilanjutkan dengan pemberian kesan dan pesan dari setiap angkatan. Angkatan 2023 diwakilkan oleh Antonius Dari Padua Nathanael Suluh, angkatan 2022 diwakilkan oleh Fidela Rasendriya, angkatan 2021 diwakilkan oleh Fachri Candra Abimanyu, dan angkatan 2020 diwakilkan oleh Ibnu Tryansar. Acara selanjutnya, yaitu persembahan dari SOC lalu dilanjutkan sesi dokumentasi dan ditutup dengan pembacaan doa.

Dengan adanya Wisuda Prodi Februari 2024 ini, diharapkan dapat menjadi bentuk apresiasi kepada para wisudawan yang telah menyelesaikan program studi S1 Teknik Kimia UNS. Semoga para wisudawan dapat mencapai apa yang diharapkan.

Share:

[Butena 1] The Unrecognized Dangers of PFAS

    PFAS (Per and PolyfluoroAlkyl Substances) adalah sekelompok senyawa kimia organofluorin sintetik yang memiliki banyak atom fluor, yang terikat pada rantai alkil. Dalam perfluoroalkil, semua karbon kecuali yang terakhir terikat pada fluor dan karbon terakhir melekat pada gugus fungsi. Gugus fungsi yang berbeda-beda inilah yang menjadikan nama kimia yang bervariasi. Sementara itu, dalam polifluoroalkil setidaknya satu (tetapi tidak semua) karbon terikat pada fluor (Buck dkk., 2011). Banyak pendapat bahwa produksi dan penggunaan PFAS harus dibatasi karena tingginya persistensi (sangat tahan degradasi alamiah sehingga sulit terurai) PFAS serta kurangnya pengetahuan tentang sifat, kegunaan, dan sifat toksikologinya (Gluge dkk., 2020).

Pure Water Gazette » WQRF (formerly WQRC) issues RFP

            Kebanyakan PFAS berbentuk padat seringkali berbentuk kristal atau bubuk pada suhu kamar, tapi PFAS yang berantai pendek (bentuk asam dari PFCA, FTS, dan FTOH dengan ekor karbon 4 hingga 6) cenderung berbentuk cair pada suhu kamar (ITRC, 2023). PFAS banyak digunakan karena tegangan permukaan yang sangat rendah dan/atau ketahanan terhadap udara dan minyak. Tegangan permukaan rendah pada sebagian besar PFAS dapat memberikan sifat anti lengket pada permukaannya, sehingga benda yang terbuat dari material ini lebih mudah dibersihkan dan tahan terhadap noda. Sifat ini disebabkan karena elektronegativitas fluor yang tinggi dan ukurannya yang kecil menghasilkan ikatan karbon dan fluor yang kuat (Kissa, 2001). Namun, ikatan C-F yang kuat menjadikan PFAS bioakumulatif, beracun bagi lingkungan dan makhluk hidup, serta sulit terurai (Meegoda dkk., 2022). 

            Fluor dalam PFAS ditambang dari pengendapan mineral fluorit (CaF2) yang dicerna untuk membentuk asam fluorida (HF). HF dan bahan kimia berbasis non-PFAS lainnya digunakan dalam salah satu dari dua teknik sintetik umum untuk menghasilkan bahan awal seperti, perfluoroalkanoyl fluorida dari kelompok PFAS individu. Teknik sintetik yang digunakan yaitu fluorinasi langsung dan oligomerisasi. Fluorinasi langsung adalah mengubah zat non-fluorinasi menjadi zat berfluorinasi, misalnya fluorinasi elektrokimia. Sedangkan oligomerisasi yaitu mengubah monomer menjadi molekul yang lebih besar, misalnya fluorotelomerisasi. Fluorinasi langsung bersifat agresif dan sering kali mengakibatkan reaksi kimia yang tidak terkendali seperti pemendekkan dan pengaturan ulang rantai karbon, yang menghasilkan berbagai produk sampingan termasuk isomer siklik dan cabang. Oligomerisasi kurang agresif dan menghasilkan rangkaian senyawa target yang homolog (Evich dkk., 2022).


PFAS telah digunakan untuk memproduksi produk konsumen di seluruh dunia sejak tahun 1950-an. Contoh penggunaan PFAS dalam industri adalah pada campuran plastik, karet, produk pipa yang menyatukan dan membersihkan logam, lapisan fluoroplastik untuk membuat pakaian tahan api, dan resin komposit yang digunakan dalam produk gigi palsu. Selain itu, PFAS juga digunakan pada produk kertas sebagai lapisan permukaan yang menghilangkan kelembapan dan lemak, seperti kemasan kertas non-makanan (misalnya karton dan kertas penutup) dan bahan yang bersentuhan dengan makanan (misalnya kotak pizza dan pembungkus makanan cepat saji). Sifatnya yang tahan air dan minyak, stabilitas termal dan mekanis yang tinggi, daya tahan terhadap berbagai zat kimia, serta sifat pelumasnya yang baik menjadikannya banyak digunakan pada industri makanan, tekstil, kosmetik, elektronik, dll. 

Namun, PFAS yang tidak mudah terurai dan migrasinya yang cepat di air menjadikannya tersebar luas di seluruh dunia, bahkan di wilayah paling terpencil seperti Arktik. PFAS juga terdeteksi dalam darah dan ASI manusia serta makhluk hidup lainnya (CHEMTrust, 2018). Namun, pekerja yang terlibat dalam pengolahan bahan PFAS lebih mungkin terpapar PFAS tingkat tinggi dibandingkan masyarakat umum. PFAS ini masuk ke tubuh karena terhirup, tertelan, atau terkena bahan PFAS pada kulit. Bayi yang disusui dapat menelan PFAS melalui ASI. Dengan mempertimbangkan kemungkinan risiko dari penggunaan PFAS pada bayi yang disusui, the National Breastfeeding Committee tidak melihat adanya alasan untuk menghindari rekomendasi menyusui berdasarkan manfaat menyusui.

Kadar PFAS yang tinggi dalam tubuh dapat menyebabkan berbagai risiko kesehatan, seperti peningkatan kadar kolestrol dan resiko tekanan darah tinggi, perubahan enzim hati, penurunan berat lahir bayi, serta peningkatan risiko beberapa jenis kanker. Karena ditemukannya risiko kesehatan dan lingkungan, PFAS ditempatkan di bawah kategori CEC, atau kontaminasi yang menimbulkan kekhawatiran. Bahan kimia yang diberi label CEC biasanya diketahui mempunyai atau berpotensi menimbulkan efek berbahaya terhadap kesehatan manusia atau lingkungan (Breithaupt, 2024).

Asam perfluorooctanoic (PFOA) dan asam perfluorooctane sulfonat (PFOS) merupakan zat yang paling banyak dipelajari pada subkelompok zat polifluoroalkil. Pada tahun 2006, penggunaan sebagian besar PFOS telah dilarang dan kemudian tanggal 7 Februari 2023, the European Chemical Agency (ECHA) menerbitkan proposal larangan produksi, penggunaan, dan penempatan di pasar (termasuk impor) dari seluruh kelompok zat per dan polifluoroalkil (PFAS). Pada bulan September 2020, the European Food Safety Authority (EFSA) menerbitkan penilaian ulang terhadap risiko kesehatan terkait keberadaan PFAS dalam makanan. Ini adalah pendapat EFSA pertama yang memasukkan PFAS lain, yaitu asam perfluorononanoic (PFNA) dan asam perfluorohexanesulfonic (PFHxS), dalam penilaian paparan dan penilaian risiko kesehatan selain PFOA dan PFOS. Asupan mingguan yang dapat ditoleransi (TWI) sebesar 4,4 nanogram (ng) per kilogram (kg) berat badan per minggu diperoleh dari jumlah empat PFAS, yaitu PFOA, PFNA, PFHxS, dan PFOS (BFR, 2023).

Di tahun 2023 ini, upaya untuk mengurangi PFAS masih menjadi pembahasan di kalangan peneliti. Salah satu metode untuk menangani masalah PFAS adalah dengan menggunakan lumpur aktif yang mampu mendegradasi molekul sekunder dari degradasi kimia satu jenis bahan kimia perfluorinasi melalui proses yang dikenal sebagai kometabolisme (Ober, 2022). Ada juga beberapa teknologi dekstruktif PFAS yang sedang dalam tahap pengembangan, seperti oksidasi elektrokimia, plasma, fotokatalisis, sonolisis, supercritical water oxidation, dan thermal degradation. Oksidasi elektrokimia dan reaktor plasma memiliki kemajuan besar dalam pengolahan sampel PFAS dibandingkan teknologi yang lain. Namun, degradasi sonokimia adalah yang paling menjanjikan dengan efisiensi degradasi yang tinggi dan tanpa pembentukan senyawa beracun. Hanya saja teknologi sonolisis masih dalam pengembangan skala laboratorium (Meegoda dkk., 2022).

            Pilihan gaya hidup yang baik dapat membantu mengurangi paparan terhadap PFAS. Beberapa di antaranya adalah memasak makanan dan minuman dari rumah serta mengurangi paparan PFAS dari pembungkus makanan dengan melepas pembungkusnya sesegera mungkin dan jangan memanaskan kembali makanan restoran dalam kemasannya. Untuk tekstil, periksa terlebih dahulu label bebas PFAS atau PFC. Pada produk kosmetik dan benang gigi, hindari produk yang mengandung bahan kimia dengan nama “fluoro” atau PTFE (Barhum, 2022).

Peran PFAS memang sangat berguna dalam produksi suatu bahan atau produk sebagai suatu pelapis. Akan tetapi, struktur senyawa PFAS yang berupa ikatan rantai panjang antar karbon dengan alkil fluor ini, menyebabkan sifat senyawa PFAS sulit untuk berdegradasi. Akibatnya, senyawa ini berpotensi menyebabkan kerusakan pada lingkungan dan menimbulkan bahaya bagi kesehatan. Oleh karena itu, untuk mencegah paparan PFAS berkelanjutan perlu adanya pengurangan penggunaan bahan/produk yang mengandung senyawa PFAS. Salah satu cara pengurangannya, yaitu dengan tidak membiarkan makanan terlalu lama di dalam kemasannya.

References:

Buck et al 2011. Perfluoroalkyl and Polyfluoroalkyl Substances in the Environment: Terminology, Classification, and Origins. Integrated Environmental Assessment and Management. v7, (4), pp. 513–541.

Evich, M.G., dkk. 2022. Per- and Polyfluoroalkyl Substances in the Environment. National Library of Medicine.

Gluge, Juliane, dkk. 2020. Enviromental Science: Processes & Impacts. Royal Society of Chemistry.

Kissa, E. 2001. Surfactants and Fluorination Repellents, Revised and Expanded Second Edition. Surfactant Science Series. New York: Marcel Dekker, Inc.

Meegoda, J.N., dkk. 2022. A Review of PFAS Destruction Technolgy. National Library of Medicine. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC9778349/

https://chemtrust.org/pfas/

https://extension.umaine.edu/gardening/understanding-pfas-and-your-home-garden/step-1/

https://news.ucr.edu/articles/2022/05/23/microbes-can-degrade-toughest-pfas#:~:text=These%20chemicals%20contain%20a%20bond,to%20conventional%20water%20treatment%20methods

https://pfas-1.itrcweb.org/4-physical-and-chemical-properties/

https://www.atsdr.cdc.gov/pfas/docs/PFAS_FamilyTree_EnvHealthPro-508.pdf

https://www.bfr.bund.de/en/here_to_stay__per__and_polyfluoroalkyl_substances__pfas__in_food_and_in_the_environment-244188.html

https://www.eea.europa.eu/help/faq/what-are-pfas-and-how

https://www.epa.gov/pfas/pfas-explained

https://www.oecd.org/chemicalsafety/portal-perfluorinated-chemicals/aboutpfass/

https://www.ppmco.com/per-and-polyfluoroalkyl-substances-pfas/

https://www.verywellhealth.com/pfas-awareness-and-risks-5220490

Share:

Postingan Populer

Arsip Blog