Emas adalah salah satu logam mulia yang sangat dikenal oleh manusia sejak zaman dahulu. Dalam ilmu Kimia, emas merupakan unsur kimia yang memiliki simbol Au (dari bahasa Latin aurum) dengan nomor atom 79. Emas ditemukan dalam meteorit, kerak bumi, lautan, matahari, dan semua makhluk hidup yang diperkirakan mengandung sekitar 10¹⁸ ton emas. (sumber: https://doi.org/10.1080/08120099.2025.2498613)
Logam ini memiliki warna kuning mengkilap, tidak mudah berkarat, serta sangat mudah ditempa dan dibentuk menjadi berbagai benda. Karena sebagian emas di Bumi berasal dari luar angkasa, sifatnya cenderung stabil. Para ilmuwan percaya bahwa emas terbentuk dari ledakan bintang atau tabrakan bintang neutron miliaran tahun lalu sebelum akhirnya menjadi bagian dari planet Bumi.
Rekayasa
Material Masa Depan: Memanen Emas di Jantung Reaktor Nuklir
Emas
adalah salah satu logam mulia yang sangat dikenal oleh manusia sejak
zaman dahulu. Dalam ilmu Kimia, emas merupakan unsur kimia yang
memiliki simbol Au (dari bahasa Latin aurum)
dengan nomor atom 79. Emas ditemukan dalam meteorit, kerak bumi,
lautan, matahari, dan semua makhluk hidup yang diperkirakan
mengandung sekitar 10¹⁸ ton emas.
(sumber: https://doi.org/10.1080/08120099.2025.2498613)
Logam
ini memiliki warna kuning mengkilap, tidak mudah berkarat, serta
sangat mudah ditempa dan dibentuk menjadi berbagai benda. Karena
sebagian emas di Bumi berasal dari luar angkasa, sifatnya cenderung
stabil. Para ilmuwan percaya bahwa emas terbentuk dari ledakan
bintang atau tabrakan bintang neutron miliaran tahun lalu sebelum
akhirnya menjadi bagian dari planet Bumi.
Emas
diketahui memiliki titik leleh sekitar 1064°C dan titik didih
sekitar 2856°C. Titik didih yang tinggi ini menunjukkan bahwa emas
memerlukan energi panas yang sangat besar untuk berubah dari fase
cair menjadi gas. Sifat ini berkaitan dengan kuatnya ikatan antar
atom emas dalam struktur kristalnya. Selain itu, emas juga memiliki
konduktivitas listrik dan panas yang baik serta tidak mudah bereaksi
dengan oksigen maupun air, sehingga emas tidak mudah berkarat atau
mengalami korosi meskipun telah berada di lingkungan terbuka selama
waktu yang sangat lama.
Emas
yang ada di Bumi sebenarnya tidak terbentuk langsung di dalam planet
ini, melainkan berasal dari proses kosmik yang terjadi jauh sebelum
Bumi terbentuk. Dalam kajian Astrofisika dan Kimia, para ilmuwan
menjelaskan bahwa unsur berat seperti emas terbentuk melalui proses
yang disebut Nucleosynthesis,
yaitu pembentukan unsur-unsur baru melalui reaksi inti atom di luar
angkasa. Salah satu peristiwa utama yang dapat menghasilkan emas
adalah Supernova, yaitu ledakan besar dari bintang masif yang telah
mencapai akhir siklus hidupnya. Ledakan ini menghasilkan energi yang
sangat besar sehingga memungkinkan terbentuknya unsur-unsur berat,
termasuk emas.
Apakah
Emas Dapat Dibuat Dengan Nuklir?
Dalam
fisika nuklir terdapat konsep yang disebut Nuclear
Transmutation,
yaitu proses mengubah suatu unsur menjadi unsur lain dengan mengubah
inti atomnya. Karena unsur kimia ditentukan oleh jumlah proton dalam
inti, jika jumlah proton berubah maka unsur tersebut juga berubah.
Contohnya, Merkuri (Hg) memiliki 80 proton dan Emas (Au) memiliki 79
proton.
Jika
inti merkuri kehilangan satu proton atau mengalami perubahan nuklir
tertentu, maka ia dapat berubah menjadi emas. Proses seperti ini
hanya bisa terjadi melalui reaksi nuklir berenergi tinggi, misalnya
melalui pembombardiran partikel di reaktor nuklir atau akselerator
partikel. Eksperimen seperti ini pernah dilakukan dalam skala kecil
di laboratorium fisika partikel, namun jumlah emas yang dihasilkan
sangat kecil dan tidak ekonomis.
Sejak
tahun 1941, para ilmuwan telah mencoba mengubah merkuri menjadi emas
melalui metode pembombardiran nuklir dengan menghantam merkuri
menggunakan neutron dalam upaya untuk melepaskan proton dari merkuri.
Metode ini terbukti berhasil. Namun, ada
kelemahan besar yaitu emas yang dihasilkan tidak stabil,
karena merupakan isotop radioaktif. Dalam penelitian baru-baru ini,
tim tersebut mengusulkan bahwa mereka dapat menggunakan Hg-198,
isotop merkuri yang mengandung 118 neutron untuk menghasilkan emas.
Meskipun proses di dalam reaktor fusi yang sudah kompleks itu rumit,
pada intinya, tujuannya adalah untuk melepaskan neutron dari Hg-198
untuk mengubahnya menjadi Hg-197 (isotop merkuri).
Secara
ilmiah memang mungkin membuat emas melalui reaksi nuklir, tetapi
penting untuk dipahami bahwa hal ini sangat sulit, mahal, dan belum
dilakukan secara praktis dalam skala besar.
Kembali
dicoba oleh perusahaan “Marathon Fusion” dengan mengusulkan
metode reaktor fusi, yaitu memanfaatkan neutron berenergi tinggi yang
dihasilkan dari reaksi fusi untuk menabrak isotop merkuri tertentu.
Reaksi
yang diusulkan :
Hg-198
→ Hg-197 → Au-197
(Peluruhan
dari Hg-197 menjadi emas terjadi dalam waktu sekitar 64 jam)
Menggunakan
isotop merkuri Hg-198, lalu neutron dari reaktor fusi menabrak inti
tersebut yang membuat inti berubah menjadi Hg-197. Isotop tidak
stabil lalu meluruh menjadi Au-197 (Stabil).
Namun,
konsep tersebut belum benar-benar dapat dijalankan secara
nyata/langsung karena beberapa alasan. Teknologi fusi masih dalam
tahap penelitian dan belum menghasilkan listrik secara stabil,
proposal dari Marathon Fusion masih berupa simulasi ilmiah dan belum
diuji secara eksperimen, emas yang dihasilkan kemungkinan bercampur
dengan isotop radioaktif sehingga harus disimpan sekitar 14–18
tahun sampai aman digunakan, eksperimen di akselerator partikel hanya
menghasilkan jumlah emas yang sangat kecil (bahkan hanya picogram).
Menurut
Marathon Fusion, jika metode ini berhasil secara besar-besaran,
mereka memperkirakan sebuah pembangkit fusi berdaya 1 gigawatt bisa
menghasilkan hingga beberapa ton emas per tahun sambil tetap
menghasilkan listrik.
Secara
teori dapat disimpulkan bahwa emas memang dapat direkayasa dengan
merkuri dan menjadikannya bahan yang dapat menghemat emas asli yang
semakin menipis, tetapi teknologi dan inovasi yang dibuat masih belum
memungkinkan untuk diberlakukannya secara industrial serta risiko
paparan radioaktif yang berbahaya. Hingga saat artikel ini dibuat,
emas yang dibuat dari reaktor nuklir belum dapat dikatakan berhasil
dan masih membutuhkan waktu yang lama untuk proses penyempurnaannya.
Sumber
Reinders,
L.J. (2021).
What is Nuclear Fusion?.
In: Sun in a Bottle?... Pie in the Sky!. Springer, Cham.
https://doi.org/10.1007/978-3-030-74734-3_1
Blair,
D. G. (2025).
How to make gold. Australian
Journal of Earth Sciences, 72(5–6), 603–611.
https://doi.org/10.1080/08120099.2025.2498613
Felton,
J. (2025).
Marathon Fusion Claims They Have A Method For Transmuting Mercury
Into Gold.
IFLScience.
https://www.iflscience.com/marathon-fusion-claims-they-have-a-method-for-transmuting-mercury-into-gold-80132
Bevan,
A. (2025).
Company Claims Nuclear Fusion Turns Mercury to Gold.
Mirage News.
https://www.miragenews.com/company-claims-nuclear-fusion-turns-mercury-to-1503646/