Tampilkan postingan dengan label butena. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label butena. Tampilkan semua postingan

[BUTENA 4] Anjang Karya

ANJANGKARYA


Anjang karya merupakan  kegiatan yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengunjungi langsung fasilitas produksi industri guna mengamati penerapan prinsip-prinsip Teknik Kimia, seperti neraca massa, reaksi kimia, hingga  perpindahan panas, secara langsung di dunia industri. Tiga pabrik, tiga wajah teknik kimia, melalui kunjungan ke tiga industri yang bergerak di bidang mereka, mahasiswa memperoleh gambaran nyata mengenai beragam penerapan ilmu Teknik Kimia. Di Indocement, mahasiswa berhadapan dengan reaksi kalsinasi dan perpindahan panas dalam skala raksasa yang menjadi inti produksi semen. Di Pupuk Kujang, mahasiswa menyaksikan secara langsung berbagai konsep dalam mata kuliah Teknik Reaksi Kimia dan Termodinamika yang  berjalan nyata dalam satu rangkaian proses pabrik mulai dari reforming, shift conversion, absorpsi gas, hingga sintesis Haber–Bosch. Di Amerta Indah Otsuka, mahasiswa mempelajari penerapan neraca massa, pengendalian proses, dan sistem kendali mutu yang menjadi fondasi industri pangan dan minuman. 

  Pada hari pertama anjangkarya industri pertama yang akan dikunjungi adalah PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk., sebuah usaha berupa industri semen yang  didirikan pada tanggal 4 Agustus 1975.  PT Indocement Tunggal Prakarsa plant yang berada di Citeureup, Bogor, mengolah bahan baku menjadi semen dengan kapasitas 2,5 juta ton/tahun dan sekitar 3.400 pekerja (data Desember 2022). Indocement memproduksi beragam jenis semen dan material konstruksi, dengan merek dagang utama Semen Tiga Roda dan Semen Rajawali. Kategori produk semen utamanya mencakup Ordinary Portland Cement (OPC) dan Portland Composite Cement (PCC) untuk berbagai skala konstruksi, dari perumahan hingga bangunan yang membutuhkan ketahanan terhadap sulfat.  Di luar produk semen konvensional, Indocement juga menyediakan lini material bangunan praktis melalui seri Mortar (TR-10, TR-15, TR-18, TR-20, dan TR-30 Acian Putih) yang difungsikan khusus untuk perekat bata, plester, perata lantai, hingga acian halus.




Proses produksi semen di PT Indocement Tunggal Prakarsa diawali dengan penambangan kapur pada gunung kapur di sekitar pabrik. Bahan baku lainnya untuk membuat semen adalah tanah liat, pasir besi, dan pasir silika. Bongkahan-bongkahan kapur berukuran besar diperkecil dengan menggunakan crusher. Setelah itu, digiling lagi dengan menggunakan mill sehingga teksturnya seperti pasir. Proses selanjutnya yaitu  berada di storage untuk pencampuran awal sekaligus kontrol kualitas. Lalu dimasukkan ke dalam raw mill untuk penggilingan hingga mencapai target modulus. Setelah berada di raw mill, produk disimpan pada sillo raw mill. Kemudian produk dipanaskan  hingga ±1500–2000°C, mengubah material padat menjadi cair sebagian, lalu didinginkan mendadak di cooler dan clinker cooler. Lalu pada cement mill dilakukan penggilingan akhir clinker menjadi semen. Proses terakhir dalam produksi semen yaitu pengemasan.

Terdapat dua reaksi kimia utama dalam proses produksi semen. Reaksi pertama adalah kalsinasi:

CaCO₃ → CaO + CO₂↑

Reaksi endotermik ini berlangsung sekitar 90% di sistem Pre-Heater (kalsiner,cyclone untuk perpindahan panas, dan riser duct yang memperlama waktu tinggal material). Sementara itu, sekitar 10% sisanya berlangsung di rotary klin.

    Reaksi kedua adalah reaksi klinkerisasi, yaitu proses ketika CaO hasil kalsinasi bereaksi SiO₂, Al₂O₃, dan Fe₂O₃ pada suhu tinggi sehingga membentuk empat senyawa utama yang menyusun clinker yaitu.

  •  C₃S (3CaO·SiO₂ — Alite) — penyumbang kekuatan awal

  • C₂S (2CaO·SiO₂ — Belite) — penyumbang kekuatan jangka panjang

  • C₃A (3CaO·Al₂O₃) — bereaksi paling cepat dengan air

  • C₄AF (4CaO·Al₂O₃·Fe₂O₃) — pemberi warna abu-abu khas semen

Kategori Alternative Fuel and Raw Material (AFR) ternyata jauh lebih variatif dari yang dibayangkan mulai dari sekam padi, serbuk gergaji, dan cangkang serta tandan kosong kelapa sawit, sampai sepatu bekas (termasuk sepatu Nike yang gagal QC, karena solnya berbahan turunan minyak bumi) dan popok bekas/kedaluwarsa. Seluruh AFR tersebut dimanfaatkan untuk menggantikan sebagian batu bara sekaligus menjadi solusi pengelolaan limbah. Satu hal yang perlu diperhatikan, yakni kandungan sulfur dan klor yang tinggi pada AFR, apabila bercampur dengan abu (ash), akan berpotensi mempercepat pengerasan abu tersebut, sehingga komposisi AFR tetap harus dikontrol ketat. 



Indocement gencar melakukan inovasi untuk menekan dampak lingkungan. Salah satu langkah utamanya adalah penggunaan bahan bakar alternatif berupa Refuse-Derived Fuel (RDF) yang berasal dari sampah perkotaan, yang tidak hanya mengurangi emisi CO2 tetapi juga membantu mengatasi permasalahan sampah kota. Upaya-upaya tersebut telah membantu perusahaan menurunkan emisi karbon hingga 520 kilogram CO2 per ton semen, melalui kombinasi bahan bakar alternatif, material pengganti klinker seperti slag dan fly ash, serta pemanfaatan panel surya di kompleks pabrik. Indocement juga berinovasi pada sisi produk dengan mengembangkan dan memasarkan berbagai jenis semen hijau, seperti Portland Composite Cement (PCC), Portland Pozzolan Cement (PPC), semen slag, dan semen hidraulis.

Industri selanjutnya yang akan dikunjungi pada hari pertama yakni PT Amerta Indah Otsuka. Di awal berdirinya pada tahun 1997, Otsuka merupakan perusahaan afiliasi dari Otsuka Pharmaceutical Co. Ltd., Jepang, yang memulai perjalanannya di Indonesia dengan nama PT Kapal Indah Otsuka. Perusahaan ini terbentuk dari hasil investasi bersama antara Otsuka Pharmaceutical Jepang dan PT Kapal Api dengan Pocari Sweat sebagai produk pertamanya. Kemudian di tahun 1999, PT Kapal Indah Otsuka mengubah namanya menjadi PT Amerta Indah Otsuka. Seiring berkembangnya perusahaan, pada tahun 2004 PT Amerta Indah Otsuka membuka pabrik pertama yang terletak di Sukabumi, Jawa Barat.



PT Amerta Indah Otsuka memproduksi berbagai minuman isotonik dan makanan

kesehatan. 

  • Pocari Sweat: Minuman isotonik untuk menggantikan cairan dan elektrolit tubuh yang hilang.

  • Ion Water: Varian minuman isotonik rendah kalori untuk gaya hidup sehari-hari.

  • Soyjoy: Camilan sehat (snack bar) yang terbuat dari 100% tepung kedelai utuh dan buah asli.

  • Oronamin C: Minuman vitamin C dan B berkarbonasi yang mengandung madu untuk kebutuhan harian.

  • Fibe Mini: Minuman serat harian (daily fiber drink) untuk membantu menjaga kesehatan pencernaan.



Produsen Pocari Sweat, Ion Water, SOYJOY, Oronamin C, dan Fibe Mini ini menunjukkan sisi lain penerapan teknik kimia. Jika industri sebelumnya didominasi  oleh reaksi kimia bersuhu dan  bertekanan tinggi, di PT Amerta Indah Otsuka perhatian justru tertuju pada neraca massa yang presisi, pengendalian proses, dan sistem kendali mutu yang berlapis. Sebelum digunakan sebagai bahan baku minuman, air melewati serangkaian tahapan  pengolahan, mulai dari penyaringan menggunakan  pasir dan karbon aktif, softening, reverse osmosis, hingga sterilisasi menggunakan UV dan ozon. Elektrolit dicampurkan lewat sistem dosing otomatis agar konsentrasinya konsisten di setiap botol, sebelum melalui pasteurisasi dan pengisian aseptik (aseptic filling) dalam ruangan steril. Sebelum memasuki tahap pengemasan, setiap botol diperiksa secara otomatis. Botol dengan volume atau tekanan yang sedikit saja menyimpang dari standar, akan langsung disortir keluar dari jalur produksi sehingga hanya produk yang memenuhi spesifikasi yang dilanjutkan ke tahap pengemasan.


Pada hari kedua anjangkarya, industri terakhir  yang akan dikunjungi adalah PT Pupuk Kujang. PT Pupuk Kujang merupakan salah satu pabrik pupuk tertua di Indonesia dan bagian dari lima pabrik pupuk di bawah Pupuk Indonesia. Produknya yakni amonia, urea, NPK, pupuk organik, serta produk samping karbon monoksida dan hidrogen. Pupuk Kujang didirikan oleh Pemerintah Indonesia pada Juni 1975. Pabrik Kujang 1A mampu memproduksi 570.000 ton urea dan 330.000 ton amonia per tahun. Pada tahun 1997, perusahaan ini resmi menjadi bagian dari holding BUMN pupuk di bawah naungan Pupuk Sriwidjaja. Selain memproduksi pupuk urea non-subsidi merek "Nitrea" (2013) dan membangun pabrik NPK Granular berkapasitas 100.000 ton per tahun (2015), mereka juga mulai mengoptimalkan gas sisa buangan dari pabrik 1A dan 1B.  Gas sisa ini berhasil disulap menjadi produk yang memiliki nilai tambah melalui peresmian fasilitas pabrik karbon dioksida cair.



Proses produksi urea diawali dengan tiga bahan baku utama, yaitu gas alam, air, dan udara. Ketiga bahan baku ini kemudian memasuki serangkaian proses kimia yang rumit untuk menghasilkan tiga komponen kunci, yaitu nitrogen (N2), hidrogen (H2), dan karbon dioksida (CO2). Ketiga bahan baku ini kemudian memasuki serangkaian proses kimia yang rumit untuk menghasilkan tiga komponen kunci. Amonia yang dihasilkan kemudian dialirkan ke unit urea. Dalam proses ini, amonia bereaksi dengan karbon dioksida dalam reaktor urea. Reaksi ini menghasilkan urea cair dan air.

Urea cair yang dihasilkan kemudian diproses lebih lanjut untuk menghilangkan kandungan airnya. Urea yang sudah kering kemudian dibentuk menjadi butiran-butiran kecil berdiameter 1-2 mm melalui proses granulasi di prilling tower. Butiran urea ini kemudian dialirkan ke area bagging station melalui conveyor untuk dikemas dan didistribusikan ke petani.

Memasuki usia ke-51 tahun, Pupuk Kujang gencar melakukan transformasi digital di berbagai aspek operasional perusahaan, mengusung tema Transformasi Digital Menuju Kujang Emas 2045. Inovasi terbarunya adalah peluncuran ekosistem digital terintegrasi bernama Kujang Prime (Plant Reliability, Integrated & Management Excellence) yang terdiri atas lima aplikasi unggulan, yakni Kujang Zenith, Mars, Padiku, Spirit, dan Siaga. Transformasi ini memungkinkan karyawan mendeteksi kendala operasional secara lebih dini, mempercepat pengambilan keputusan, meningkatkan efisiensi waktu kerja, serta menekan biaya cetak dan distribusi dokumen. Selain digitalisasi, Pupuk Kujang juga berkomitmen terhadap target net zero emission dengan menetapkan baseline emisi sebesar 1.172.084 ton CO2 ekuivalen dari cakupan Scope 1 dan Scope 2, yang akan diturunkan secara bertahap hingga tahun 2050 melalui strategi pengurangan emisi langsung maupun tidak langsung di seluruh lini operasional.


Anjang karya kali ini tidak hanya sebatas berkunjung ke pabrik saja, tetapi juga mencakup kegiatan wisata berkunjung ke Alun-alun Kota Bandung dan Trans Studio Bandung. Alun-alun Kota Bandung menawarkan pesona tersendiri sebagai destinasi wisata sejarah yang kaya akan nilai historis dan cerita masa lalu kota. Sementara itu, Trans Studio Bandung menyajikan pengalaman wisata modern yang lengkap seperti berbagai wahana hiburan, sekaligus mendapatkan edukasi interaktif secara menyenangkan.




DAFTAR PUSTAKA


Institut Teknologi Bandung, 2018. Kunjungan Industri ke PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Departemen Teknik Kimia ITB.

https://che.itb.ac.id/2018/08/29/kunjungan-industri-ke-pt-indocement-tunggal-prakarsa-tbk/


Lestarini, A.H., 2021. Kurangi dampak lingkungan, Indocement pakai terobosan bahan bakar alternatif. Medcom.id.

https://www.medcom.id/ekonomi/sustainability/yKXj3z4b-kurangi-dampak-lingkungan-indocement-pakai-terobosan-bahan-bakar-alternatif


PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (n.d.). Sekilas perseroan. Indocement.

https://www.indocement.co.id/id/company/about-us/sekilas-perseroan


PT Pupuk Kujang. (n.d.) Process Production.

https://pupuk-kujang.co.id/production/process-production


PT Pupuk Kujang. (n.d.) Proses Produksi NPK.

https://www.pupuk-kujang.co.id/production/process-production/proses-produksi-npk1728087227


Wikipedia. (n.d.) Indocement. Wikipedia

https://id.wikipedia.org/wiki/Indocement#cite_note-18


Wikipedia. (n.d.) Pupuk Kujang. Wikipedia Bahasa Indonesia. 

https://id.wikipedia.org/wiki/Pupuk_Kujang











 




Share:

[BUTENA 3] Mencari Racikan Bahan Bakar Roket Paling Sempurna

Mencari Racikan Bahan Bakar Roket Paling Sempurna

image

Roket adalah kendaraan terbang yang bergerak menggunakan gaya dorong dari semburan mesinnya. Prinsip kerjanya didasarkan pada hukum ke-3 Newton yang menyatakan bahwa setiap aksi selalu menghasilkan reaksi yang sama besar dengan arah berlawanan. Gas berkecepatan tinggi yang menyembur dari bawah mesin bertindak sebagai aksi pembentuk dorongan kuat yang melesatkan roket ke depan.

Sejarah roket berawal dari ketidaksengajaan para peracik obat Tiongkok pada abad ke-9 yang justru menemukan bubuk mesiu. Pasukan Tiongkok lalu menggunakan bubuk ini untuk membuat senjata proyektil besi guna menahan serangan Mongol pada tahun 1232. Senjata tersebut berupa panci besi berukuran besar yang ditembakkan menggunakan mesiu dan panci itu mampu melaju hingga 25 kilometer (15 mil), serta dapat meledakkan zona sasaran hingga radius 600 meter akibat pecahannya. Teknologi ini akhirnya menyebar ke Eropa seiring perluasan wilayah kekuasaan Jenghis Khan. Setelah berabad-abad sekadar menjadi senjata militer dan bahan kembang api, pada abad ke-20, roket mulai dikembangkan untuk kepentingan sains sampai akhirnya berhasil membawa manusia mendarat di bulan.

Saat diluncurkan, roket harus melaju di lintasan melengkung hingga menembus kecepatan 28.646 kilometer per jam agar dapat terlepas dari tarikan gravitasi. Ketika mencapai titik orbit yang dituju, roket akan melepaskan muatannya seperti satelit. Satelit tersebut tidak jatuh ke bumi karena adanya keseimbangan antara tarikan gravitasi Bumi melawan dorongan momentum laju dari roket itu sendiri.

image

Agar mampu bertahan dan beroperasi di ruang hampa udara, roket dirancang dengan struktur yang khusus. Roket terdiri atas empat komponen yang meliputi: 

  1. Tangki bahan bakar beserta oksidator (misalnya oksigen cair).
  2. Ruang pembakaran dan nozzle pendorong.
  3. Sistem kontrol arah navigasi.
  4. Payload atau muatan seperti satelit, modul maupun kapsul astronot.

image

Kunci keberhasilan peluncuran roket sangat bergantung pada jenis propelan atau bahan bakarnya. Para ahli biasanya menggunakan propelan padat maupun cair untuk mendapatkan performa mesin terbaik. Kombinasi bahan bakar cair yang paling sering digunakan adalah kerolox. Perpaduan antara bahan bakar RP-1 yang mirip minyak tanah bersama oksigen cair ini terbukti efisien dengan biaya peluncuran yang terjangkau. Roket seri Saturn hingga Falcon milik SpaceX masih mengandalkan campuran ini. Selain itu ada juga pilihan propelan berbasis hidrogen cair bersanding dengan oksigen cair. Campuran bersuhu ekstrem ini jauh lebih efisien untuk menghasilkan tenaga dorong walaupun membutuhkan tangki dan komponen mesin yang jauh lebih rumit.

image

Untuk kebutuhan alternatif bahan bakar tunggal, industri antariksa sering memakai senyawa hydrazine. Senyawa beracun dengan bau tajam ini sangat reaktif dan bisa menghasilkan dorongan besar dari ukuran tangki yang kecil. Penyimpanannya pun cukup praktis karena bisa dilakukan pada tekanan suhu ruang normal. Hal ini membuat hydrazine sangat cocok untuk kebutuhan manuver satelit atau pesawat di orbit luar angkasa walau penggunaannya membutuhkan standar keselamatan ekstra ketat.

Pada kenyataannya, tidak ada bahan bakar roket yang sempurna untuk seluruh tahapan terbang. Kerosin sangat unggul untuk menghasilkan tenaga pendorong maksimal saat roket baru lepas landas. Di sisi lain hidrogen cair jauh lebih hemat untuk perjalanan di ruang hampa. Namun hidrogen cair akan merepotkan jika dipakai sejak awal karena menuntut ukuran tangki yang kelewat besar. Sebagai solusi penengah, para ahli mulai menggunakan gas metana yang tingkat efisiensinya berada tepat di antara kerosin dan hidrogen.

Sayangnya, metana kurang padat dibandingkan kerosin sehingga kurang bertenaga untuk peluncuran awal sekaligus tidak sehemat hidrogen untuk tahapan akhir. Namun metana memiliki nilai tambah yang sangat menguntungkan karena bisa terbakar bersih tanpa meninggalkan banyak kerak jelaga di dalam mesin. Kelebihan ini membuat umur pakai mesin jauh lebih panjang sehingga sangat cocok untuk mendukung pengembangan mesin roket daur ulang masa depan.

Jadi, bahan bakar roket yang paling baik adalah kombinasi yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap tahap penerbangan. Kerolox sangat diandalkan sebagai pendorong utama di tahap awal peluncuran saat menembus gravitasi. Setelah berada di luar angkasa, hidrogen cair mengambil alih tugas sebagai bahan bakar andalan untuk perjalanan jarak jauh. Hydrazine sebagai pendorong untuk manuver yang lincah dan presisi di area orbit. Sementara itu, metana hadir sebagai alternatif inovatif yang bersih dan hemat perawatan untuk mendukung teknologi roket yang bisa dipakai berulang kali. Sinergi dari berbagai bahan bakar inilah yang memungkinkan manusia untuk terus memperluas batas eksplorasi luar angkasa.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Engheim, E. 2023. What is the Best Rocket Fuel?. Erik Explores. https://erikexplores.substack.com/p/what-is-the-best-rocket-fuel. 

Wiki berbudi. Bahan Bakar Roket. Ini Budi Wiki. https://inibudi.or.id/wiki/index.php/Bahan_Bakar_Roket.

Kompas.com. 2024. Bagaimana Cara Kerja Roket?. Kompas Sains. https://www.kompas.com/sains/read/2024/06/26/200000823/bagaimana-cara-kerja-roket-. 

Leishman, J. G. 2026. Rocket Engines. Introduction to Aerospace Flight Vehicles. https://eaglepubs.erau.edu/introductiontoaerospaceflightvehicles/chapter/rocket-engines/. 

Medigrafia. 2026. Mengenal Mesin Kimia dalam Roket: Peran Hydrazine dan LOX/LH2 dalam Sistem Propulsi Luar Angkasa. Medigrafia. https://medigrafia.com/mengenal-mesin-kimia-dalam-roket-peran-hydrazine-dan-lox-lh2-dalam-sistem-propulsi-luar-angkasa/#gsc.tab=0. 

NASA. 2023. Rocket Parts. NASA Glenn Research Center. https://www1.grc.nasa.gov/beginners-guide-to-aeronautics/rocket-parts/. 

Nestria, A. 2020. Cara Kerja Roket dan Analisis. Aisyah Nestria. https://www.aisyahnestria.com/2020/05/cara-kerja-roket-dan-analisis.html. (Diakses pada 23 Mei 2026).

Wikipedia. 2026. Kerolox. Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Kerolox. 

Wikipedia. 2026. Roket. Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https://id.wikipedia.org/wiki/Roket. 

 

 


Share:

[BUTENA 2] Rekayasa Material Masa Depan: Memanen Emas di Jantung Reaktor Nuklir

Emas adalah salah satu logam mulia yang sangat dikenal oleh manusia sejak zaman dahulu. Dalam ilmu Kimia, emas merupakan unsur kimia yang memiliki simbol Au (dari bahasa Latin aurum) dengan nomor atom 79. Emas ditemukan dalam meteorit, kerak bumi, lautan, matahari, dan semua makhluk hidup yang diperkirakan mengandung sekitar 10¹⁸ ton emas. (sumber: https://doi.org/10.1080/08120099.2025.2498613) Logam ini memiliki warna kuning mengkilap, tidak mudah berkarat, serta sangat mudah ditempa dan dibentuk menjadi berbagai benda. Karena sebagian emas di Bumi berasal dari luar angkasa, sifatnya cenderung stabil. Para ilmuwan percaya bahwa emas terbentuk dari ledakan bintang atau tabrakan bintang neutron miliaran tahun lalu sebelum akhirnya menjadi bagian dari planet Bumi.

Rekayasa Material Masa Depan: Memanen Emas di Jantung Reaktor Nuklir

Emas adalah salah satu logam mulia yang sangat dikenal oleh manusia sejak zaman dahulu. Dalam ilmu Kimia, emas merupakan unsur kimia yang memiliki simbol Au (dari bahasa Latin aurum) dengan nomor atom 79. Emas ditemukan dalam meteorit, kerak bumi, lautan, matahari, dan semua makhluk hidup yang diperkirakan mengandung sekitar 10¹⁸ ton emas. (sumber: https://doi.org/10.1080/08120099.2025.2498613)

Logam ini memiliki warna kuning mengkilap, tidak mudah berkarat, serta sangat mudah ditempa dan dibentuk menjadi berbagai benda. Karena sebagian emas di Bumi berasal dari luar angkasa, sifatnya cenderung stabil. Para ilmuwan percaya bahwa emas terbentuk dari ledakan bintang atau tabrakan bintang neutron miliaran tahun lalu sebelum akhirnya menjadi bagian dari planet Bumi.

Emas diketahui memiliki titik leleh sekitar 1064°C dan titik didih sekitar 2856°C. Titik didih yang tinggi ini menunjukkan bahwa emas memerlukan energi panas yang sangat besar untuk berubah dari fase cair menjadi gas. Sifat ini berkaitan dengan kuatnya ikatan antar atom emas dalam struktur kristalnya. Selain itu, emas juga memiliki konduktivitas listrik dan panas yang baik serta tidak mudah bereaksi dengan oksigen maupun air, sehingga emas tidak mudah berkarat atau mengalami korosi meskipun telah berada di lingkungan terbuka selama waktu yang sangat lama.

Emas yang ada di Bumi sebenarnya tidak terbentuk langsung di dalam planet ini, melainkan berasal dari proses kosmik yang terjadi jauh sebelum Bumi terbentuk. Dalam kajian Astrofisika dan Kimia, para ilmuwan menjelaskan bahwa unsur berat seperti emas terbentuk melalui proses yang disebut Nucleosynthesis, yaitu pembentukan unsur-unsur baru melalui reaksi inti atom di luar angkasa. Salah satu peristiwa utama yang dapat menghasilkan emas adalah Supernova, yaitu ledakan besar dari bintang masif yang telah mencapai akhir siklus hidupnya. Ledakan ini menghasilkan energi yang sangat besar sehingga memungkinkan terbentuknya unsur-unsur berat, termasuk emas.

Apakah Emas Dapat Dibuat Dengan Nuklir?

Dalam fisika nuklir terdapat konsep yang disebut Nuclear Transmutation, yaitu proses mengubah suatu unsur menjadi unsur lain dengan mengubah inti atomnya. Karena unsur kimia ditentukan oleh jumlah proton dalam inti, jika jumlah proton berubah maka unsur tersebut juga berubah. Contohnya, Merkuri (Hg) memiliki 80 proton dan Emas (Au) memiliki 79 proton.

Jika inti merkuri kehilangan satu proton atau mengalami perubahan nuklir tertentu, maka ia dapat berubah menjadi emas. Proses seperti ini hanya bisa terjadi melalui reaksi nuklir berenergi tinggi, misalnya melalui pembombardiran partikel di reaktor nuklir atau akselerator partikel. Eksperimen seperti ini pernah dilakukan dalam skala kecil di laboratorium fisika partikel, namun jumlah emas yang dihasilkan sangat kecil dan tidak ekonomis.

Sejak tahun 1941, para ilmuwan telah mencoba mengubah merkuri menjadi emas melalui metode pembombardiran nuklir dengan menghantam merkuri menggunakan neutron dalam upaya untuk melepaskan proton dari merkuri. Metode ini terbukti berhasil. Namun, ada kelemahan besar yaitu emas yang dihasilkan tidak stabil, karena merupakan isotop radioaktif. Dalam penelitian baru-baru ini, tim tersebut mengusulkan bahwa mereka dapat menggunakan Hg-198, isotop merkuri yang mengandung 118 neutron untuk menghasilkan emas. Meskipun proses di dalam reaktor fusi yang sudah kompleks itu rumit, pada intinya, tujuannya adalah untuk melepaskan neutron dari Hg-198 untuk mengubahnya menjadi Hg-197 (isotop merkuri).

Secara ilmiah memang mungkin membuat emas melalui reaksi nuklir, tetapi penting untuk dipahami bahwa hal ini sangat sulit, mahal, dan belum dilakukan secara praktis dalam skala besar.

Kembali dicoba oleh perusahaan “Marathon Fusion” dengan mengusulkan metode reaktor fusi, yaitu memanfaatkan neutron berenergi tinggi yang dihasilkan dari reaksi fusi untuk menabrak isotop merkuri tertentu.

Reaksi yang diusulkan :

Hg-198 → Hg-197 → Au-197

(Peluruhan dari Hg-197 menjadi emas terjadi dalam waktu sekitar 64 jam)

Menggunakan isotop merkuri Hg-198, lalu neutron dari reaktor fusi menabrak inti tersebut yang membuat inti berubah menjadi Hg-197. Isotop tidak stabil lalu meluruh menjadi Au-197 (Stabil).

Namun, konsep tersebut belum benar-benar dapat dijalankan secara nyata/langsung karena beberapa alasan. Teknologi fusi masih dalam tahap penelitian dan belum menghasilkan listrik secara stabil, proposal dari Marathon Fusion masih berupa simulasi ilmiah dan belum diuji secara eksperimen, emas yang dihasilkan kemungkinan bercampur dengan isotop radioaktif sehingga harus disimpan sekitar 14–18 tahun sampai aman digunakan, eksperimen di akselerator partikel hanya menghasilkan jumlah emas yang sangat kecil (bahkan hanya picogram).

Menurut Marathon Fusion, jika metode ini berhasil secara besar-besaran, mereka memperkirakan sebuah pembangkit fusi berdaya 1 gigawatt bisa menghasilkan hingga beberapa ton emas per tahun sambil tetap menghasilkan listrik.

Secara teori dapat disimpulkan bahwa emas memang dapat direkayasa dengan merkuri dan menjadikannya bahan yang dapat menghemat emas asli yang semakin menipis, tetapi teknologi dan inovasi yang dibuat masih belum memungkinkan untuk diberlakukannya secara industrial serta risiko paparan radioaktif yang berbahaya. Hingga saat artikel ini dibuat, emas yang dibuat dari reaktor nuklir belum dapat dikatakan berhasil dan masih membutuhkan waktu yang lama untuk proses penyempurnaannya.

Sumber

Reinders, L.J. (2021). What is Nuclear Fusion?. In: Sun in a Bottle?... Pie in the Sky!. Springer, Cham.

https://doi.org/10.1007/978-3-030-74734-3_1

Blair, D. G. (2025). How to make gold. Australian Journal of Earth Sciences, 72(5–6), 603–611.

https://doi.org/10.1080/08120099.2025.2498613

Felton, J. (2025). Marathon Fusion Claims They Have A Method For Transmuting Mercury Into Gold. IFLScience. https://www.iflscience.com/marathon-fusion-claims-they-have-a-method-for-transmuting-mercury-into-gold-80132

Bevan, A. (2025). Company Claims Nuclear Fusion Turns Mercury to Gold. Mirage News. https://www.miragenews.com/company-claims-nuclear-fusion-turns-mercury-to-1503646/





Share:

[BUTENA 1] Aurora: Lukisan Alam dari Interaksi Matahari dan Bumi

Aurora merupakan fenomena alam berupa tampilan cahaya alami yang berkilauan di langit dan muncul akibat interaksi antara partikel bermuatan dari matahari dengan atom dan molekul gas di atmosfer Bumi. Ketika partikel-partikel tersebut bertabrakan dengan gas-gas atmosfer, energi yang dilepaskan akan tampak sebagai pancaran cahaya berwarna-warni yang menghiasi langit, terutama pada saat malam hari. Fenomena ini dikenal dengan aurora borealis atau northern lights ketika terjadi di wilayah Kutub Utara, serta aurora australis atau southern lights di wilayah Kutub Selatan. Aurora borealis dapat diamati di beberapa negara lintang tinggi di belahan Bumi utara, seperti Norwegia, Finlandia, Alaska, dan Kanada. Sementara itu, aurora australis dapat disaksikan di wilayah belahan Bumi selatan, seperti Selandia Baru, Tasmania, dan Antartika.

Aurora: Lukisan Alam dari Interaksi Matahari dan Bumi

Aurora merupakan fenomena alam berupa tampilan cahaya alami yang berkilauan di langit dan muncul akibat interaksi antara partikel bermuatan dari matahari dengan atom dan molekul gas di atmosfer Bumi. Ketika partikel-partikel tersebut bertabrakan dengan gas-gas atmosfer, energi yang dilepaskan akan tampak sebagai pancaran cahaya berwarna-warni yang menghiasi langit, terutama pada saat malam hari.

Fenomena ini dikenal dengan aurora borealis atau northern lights ketika terjadi di wilayah Kutub Utara, serta aurora australis atau southern lights di wilayah Kutub Selatan. Aurora borealis dapat diamati di beberapa negara lintang tinggi di belahan Bumi utara, seperti Norwegia, Finlandia, Alaska, dan Kanada. Sementara itu, aurora australis dapat disaksikan di wilayah belahan Bumi selatan, seperti Selandia Baru, Tasmania, dan Antartika.

Secara ilmiah, aurora terjadi akibat interaksi antara partikel bermuatan berenergi tinggi yang dilepaskan matahari melalui angin matahari dengan medan magnet Bumi. Energi dari partikel-partikel tersebut terakumulasi dan kemudian dilepaskan ke atmosfer, memicu tumbukan dengan atom serta molekul gas yang menghasilkan cahaya berwarna-warni di langit.


Proses Terbentuknya Aurora

1. Matahari memancarkan partikel bermuatan (angin Matahari)

Proses aurora dimulai ketika matahari memancarkan partikel bermuatan yang dikenal sebagai angin matahari. Angin matahari ini terdiri dari partikel-partikel seperti elektron dan proton yang dilepaskan secara terus-menerus. Saat matahari berada dalam fase aktivitas tinggi, seperti terjadinya ledakan matahari atau Coronal Mass Ejections (CME), jumlah partikel yang dilepaskan dapat meningkat secara signifikan.

2. Partikel mencapai medan magnet Bumi dan diarahkan menuju kutub

Ketika angin matahari bergerak menuju Bumi, partikel-partikel bermuatan tersebut akan bertemu dengan medan magnet Bumi, yang berfungsi sebagai pelindung dari radiasi kosmik. Medan magnet ini tidak hanya melindungi Bumi, tetapi juga mengarahkan sebagian besar partikel bermuatan menuju kutub magnetik utara dan selatan, tempat terjadinya interaksi lanjutan.

3. Partikel menabrak gas atmosfer atas

Setelah memasuki atmosfer Bumi, partikel-partikel bermuatan ini akan bertumbukan dengan molekul-molekul gas di atmosfer, terutama oksigen dan nitrogen. Tumbukan tersebut menyebabkan molekul gas berada dalam kondisi tereksitasi atau berenergi tinggi.

4. Energi dilepaskan sebagai cahaya warna-warni aurora

Ketika molekul-molekul gas yang tereksitasi kembali ke kondisi stabil, energi yang tersimpan akan dilepaskan dalam bentuk cahaya tampak. Cahaya inilah yang terlihat sebagai aurora dengan berbagai warna yang khas.

Salah satu daya tarik utama aurora adalah warna-warna cahaya yang menghiasi langit malam, mulai dari hijau, merah, biru, hingga ungu dan merah muda. Warna-warna tersebut tidak muncul secara acak, melainkan merupakan hasil dari proses fisika yang terjadi di atmosfer Bumi. Perbedaan warna aurora dipengaruhi oleh jenis gas yang berinteraksi serta ketinggian tempat terjadinya tumbukan partikel bermuatan dari matahari.

Pada ketinggian di atas 200 kilometer, aurora umumnya tampak berwarna merah, yang berasal dari atom oksigen pada lapisan atmosfer atas. Sementara itu, warna hijau, yang merupakan warna aurora paling umum, muncul pada ketinggian sekitar 100–200 kilometer dan juga dihasilkan oleh oksigen yang menerima energi dari partikel berenergi tinggi.

Selain oksigen, gas nitrogen turut berperan dalam menghasilkan variasi warna aurora. Nitrogen yang tereksitasi pada ketinggian 100–200 kilometer dapat memancarkan warna biru, sedangkan pada ketinggian yang lebih rendah, yaitu di bawah 100 kilometer, nitrogen menghasilkan warna merah muda hingga keunguan. Perbedaan ketinggian ini mempengaruhi energi tumbukan dan jenis emisi cahaya, sehingga aurora seringkali tampak sebagai perpaduan beberapa warna sekaligus, menciptakan tampilan cahaya langit yang kompleks dan dinamis.

Mengapa Aurora Tidak Muncul di Indonesia?

Sayangnya, keindahan aurora tidak dapat dinikmati dari semua penjuru dunia. Letak geografis dan sistem medan magnet Bumi memainkan peran penting dalam menentukan wilayah tempat fenomena cahaya langit ini dapat muncul.

Aurora tidak muncul di langit Indonesia karena pengaruh medan magnet Bumi yang paling kuat berada di wilayah ekuator. Medan magnet Bumi berbentuk menyerupai apel, dengan lapisan perlindungan magnetik yang lebih tebal di sekitar garis khatulistiwa. Kondisi ini menyebabkan partikel bermuatan dari matahari sulit menembus atmosfer di wilayah ekuator, sehingga tidak terjadi interaksi dengan gas-gas atmosfer yang dapat memicu kemunculan aurora.

Akibatnya, fenomena aurora hanya dapat diamati di wilayah lintang tinggi yang berada lebih dekat dengan kutub magnetik utara dan selatan, sementara wilayah tropis seperti Indonesia tidak pernah mengalami fenomena cahaya langit tersebut.


Sumber :

BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional). (2024, 15 Mei). Aurora, kilau cantik akibat badai geomagnet ekstrim.

https://www.brin.go.id/news/118585/aurora-kilau-cantik-akibat-badai-geomagnet-ekstrim

Fahum UMSU. (2024, 22 November). Proses Terjadinya Aurora: Fenomena Alam yang Memukau dan Penuh Misteri.

https://fahum.umsu.ac.id/blog/proses-terjadinya-aurora-fenomena-alam-yang-memukau-dan-penuh-misteri/

NASA Science. (2025, 4 Februari). Auroras. https://science.nasa.gov/sun/auroras/

National Geographic Society. (2023, 19 Oktober). Aurora. https://education.nationalgeographic.org/resource/aurora/

Share:

[BUTENA 10] Bensin Dicampur Etanol 10% : Mesin Senang atau Ngambek?

Bioetanol merupakan senyawa alkohol golongan biofuel yang diproduksi melalui fermentasi polisakarida dari tanaman seperti tebu, jagung, atau selulosa. Sebagai bahan bakar, bioetanol dapat digunakan sebagai campuran gasoline (E10, E20, atau E85), atau dalam bentuk murni pada mesin khusus. Rumus kimia bioetanol adalah C2H6O, juga sering ditulis sebagai C2H5OH atau CH3CH2OH. Secara fisik, bioetanol berwujud cairan tidak berwarna yang mudah menguap dan mudah terbakar. Bioetanol memiliki titik didih pada 78,4°C, titik leleh pada -114,1 °C dan titik nyala pada 13°C. Senyawa ini mengandung oksigen sekitar 34,7%, larut sempurna dalam air, dan dapat teroksidasi menjadi asam asetat.

Bensin Dicampur Etanol 10% : Mesin Senang atau Ngambek?

Gambar Bensin Mengandung 10% Etanol

Sumber: https://ekoin.co/presiden-prabowo-setujui-mandatori-10-etanol-untuk-bensin/

Bioetanol merupakan senyawa alkohol golongan biofuel yang diproduksi melalui fermentasi polisakarida dari tanaman seperti tebu, jagung, atau selulosa. Sebagai bahan bakar, bioetanol dapat digunakan sebagai campuran gasoline (E10, E20, atau E85), atau dalam bentuk murni pada mesin khusus. Rumus kimia bioetanol adalah C2H6O, juga sering ditulis sebagai C2H5OH atau CH3CH2OH. Secara fisik, bioetanol berwujud cairan tidak berwarna yang mudah menguap dan mudah terbakar. Bioetanol memiliki titik didih pada 78,4°C, titik leleh pada -114,1 °C dan titik nyala pada 13°C. Senyawa ini mengandung oksigen sekitar 34,7%, larut sempurna dalam air, dan dapat teroksidasi menjadi asam asetat.

Penggunaan gasoline E10 sebagai alternatif bahan bakar fosil ini menawarkan keunggulan teknis dan lingkungan. Secara teknis, angka oktan (AKI) E10 lebih tinggi (86.2) dibanding gasoline (84.4) mengurangi knocking pada mesin kendaraan. Sebuah studi yang menguji mesin SI (Spark Ignition) menemukan bahwa E10 menghasilkan peningkatan tenaga rata-rata sebesar 1,64% dan peningkatan torsi rata-rata sebesar 1,74%. Durasi pembakaran yang lebih singkat (sekitar 2,42% lebih cepat) dan pelepasan panas (Heat Release Rate) yang terjadi lebih awal serta lebih tinggi pada RPM tinggi. Kandungan oksigen pada bioetanol mengurangi emisi Karbon Monoksida (CO), yaitu berkurang sebesar 6% pada E10 dan 5,76% pada E15 Selain itu, penggunaan bioetanol (termasuk E10) sebagai alternatif bahan bakar dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar turunan minyak bumi yang sifatnya terbatas.

Perbandingan torsi dan durasi pembakaran dari data rata-rata untuk bahan bakar E0 dan E10

Namun, penggunaan bioetanol memiliki beberapa dampak negatif. E10 memiliki kandungan energi (LHV) yang lebih rendah (41.282 kJ/kg) dibanding gasoline (43.000 kJ/kg), sehingga SFC (Specific Fuel Consumption) yang sedikit meningkat. Bioetanol juga dapat larut sempurna dengan air. Jika bahan bakar E10 terkontaminasi air campuran tersebut dapat mengalami demixing. Bahan bakar akan terpisah menjadi dua lapisan: lapisan bawah (campuran air/etanol) dan lapisan atas (bensin). Jika ini terjadi, mesin akan menyedot bensin yang telah kehilangan komponen peningkat oktannya, yang dapat merusak mesin secara serius. Selain itu, penambahan 10% bioetanol dapat meningkatkan tekanan uap (RVP) bahan bakar sehingga mempercepat evaporative losses.

Hasil konsumsi bahan bakar spesifik (SFC) yang diperoleh: (a) secara analitis; (b) pengujian mesin 2 di bawah kondisi stabil (steady-state); dan (c) kendaraan karburator dan fuel-injected di bawah kondisi stabil pada beban penuh pada dinamometer sasis setelah 72.000 km beroperasi

Sumber: https://www.mdpi.com/1996-1073/11/1/221

Di sisi lain, pemanfaatan bioetanol sebagai campuran bahan bakar fosil terus berkembang seiring meningkatnya kebutuhan energi rendah emisi. Bioetanol dipandang sebagai biofuel potensial karena beberapa keunggulan utama. Pertama, sebagai bahan bakar terbarukan dari biomassa seperti tebu, jagung, atau limbah pertanian, bioetanol memberikan solusi atas menipisnya cadangan minyak fosil dan mendukung kemandirian energi. Penelitian “Potentiality of Ethanol as a Fuel for Dedicated Engine” menunjukkan biomassa menghasilkan keseimbangan emisi CO₂ lebih baik melalui prinsip well-to-wheel sehingga menurunkan gas rumah kaca kendaraan. Kedua, bioetanol memiliki angka oktan tinggi dan panas laten penguapan besar yang memungkinkan pembakaran lebih sempurna, meminimalkan knocking, serta meningkatkan efisiensi termal dan performa mesin secara signifikan pada dedicated engine. Ketiga, sebagai oksigenator alami, bioetanol membawa kandungan oksigen dalam molekulnya yang membantu atomisasi campuran udara-bahan bakar, menghasilkan pembakaran lebih sempurna dan menekan emisi CO serta HC sebagaimana terbukti dalam berbagai penelitian mesin sepeda motor di Indonesia. Pengembangan bioetanol juga mendukung kemandirian ekonomi lokal negara agraris dengan mengurangi ketergantungan impor minyak melalui pemanfaatan limbah pertanian.

Dibanding gasoline, penambahan bioetanol mempengaruhi karakteristik pembakaran. Meski bensin murni memiliki nilai kalor lebih tinggi, campuran bioetanol mampu meningkatkan intensitas nyala, mempercepat laju pembakaran, dan menggeser puncak pelepasan panas ke posisi yang lebih menguntungkan dalam siklus mesin. Studi Sonawane dkk. menunjukkan bahwa pada E10, pembakaran berlangsung lebih cepat sehingga energi lebih efektif diubah menjadi kerja mekanik, walaupun nilai kalornya lebih rendah. Dampaknya terlihat pada performa mesin. Pada motor 150 cc, campuran 10% etanol 90% pertalite menghasilkan daya dan torsi lebih tinggi daripada bensin murni, khususnya pada putaran menengah hingga tinggi, dengan hasil dynotest mencapai 0,72 kW dan 0,75 Nm di titik optimal. Pada motor 4-tak 125 cc dengan sistem injeksi, campuran E20 tercatat paling efisien, memberikan penghematan bahan bakar hingga 14% serta menurunkan emisi HC, CO, dan CO₂ pada kondisi idle maupun variasi putaran mesin, sejalan dengan efek oksigenasi bioetanol yang meningkatkan kualitas pembakaran.

Dari sisi emisi, seluruh penelitian menunjukkan pola serupa: campuran etanol menghasilkan CO dan HC lebih rendah dibanding bensin murni. Bahkan pada kadar bioetanol 15%, penurunan CO dapat melebihi 25% pada putaran tinggi, menandakan pembakaran semakin mendekati kondisi stoikiometris.

Berdasarkan berbagai keunggulannya, bioetanol menjadi salah satu opsi biofuel yang paling siap diintegrasikan pada kendaraan bermotor masa kini, baik melalui penggunaan campuran rendah (E10–E20) maupun pada mesin yang didedikasikan secara khusus untuk bioetanol. Secara keseluruhan, gasoline masih unggul dalam nilai kalor, tetapi ketika ditinjau dari performa dinamis mesin dan dampak ekologis, campuran bioetanol terbukti memberikan kombinasi paling ideal antara efisiensi, tenaga, dan emisi rendah. Oleh karena itu, integrasi bioetanol dalam bahan bakar kendaraan menjadi strategi transisi energi yang realistis dan berdampak positif.



Daftar Pustaka

Tibaquirá, Juan E., José I. Huertas, Sebastián Ospina, Luis F. Quirama, and José E. Niño. 2018. The Effect of Using Ethanol-Gasoline Blends on the Mechanical, Energy and Environmental Performance of In-Use Vehicles. Energies 11, no. 1: 221.

Sonawane , S. ., Sekhar, R., Warke , A. ., Thipse, S., & Varma, C.(2023. Forecasting of Engine Performance for Gasoline-Ethanol Blends using Machine Learning. Journal of Engineering and Technological Sciences, Vol. 55,No 3 pp. 340-355. Bandung: Insitut Teknologi Bandung.

Suhartoyo. 2021. PENGARUH PENAMBAHAN ETANOL DI BAHAN BAKAR TERHADAP PRESTASI MESIN 4 TAK, Vol. 6, No. 2. Jurnal Kajian Teknik Mesin (JKTM).







Share:

[BUTENA 9] Batu Bara Lebih dari Sekadar Bahan Bakar: Potensi Coal Chemical Kurangi Impor Besar-Besaran

Sebagai salah satu produsen terbesar di dunia, sangat disayangkan sebagian besar hasil produksi batu bara Indonesia hanya dijual sebagai bahan mentah sehingga daya jual produk cenderung kurang. Berkaca pada permasalahan tersebut, pemerintah bersama para stakeholder kini memulai langkah menggalakkan hilirisasi batu bara menuju industri coal chemical dimana mengolah batu bara menjadi bahan kimia berdaya jual tinggi. Program ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan negara terhadap impor bahan kimia dan memperkuat kemandirian sektor energi nasional.

[BUTENA 9]

Batu Bara Lebih dari Sekadar Bahan Bakar:

Potensi Coal Chemical Kurangi Impor Besar-Besaran

Sebagai salah satu produsen terbesar di dunia, sangat disayangkan sebagian besar hasil produksi batu bara Indonesia hanya dijual sebagai bahan mentah sehingga daya jual produk cenderung kurang. Berkaca pada permasalahan tersebut, pemerintah bersama para stakeholder kini memulai langkah menggalakkan hilirisasi batu bara menuju industri coal chemical dimana mengolah batu bara menjadi bahan kimia berdaya jual tinggi. Program ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan negara terhadap impor bahan kimia dan memperkuat kemandirian sektor energi nasional.

Hilirisasi batu bara merupakan program pemerintah dalam rangka mengubah batu bara dari bahan mentah menjadi produk turunan yang memiliki daya jual tinggi melalui serangkaian proses kimia. Kebijakan hilirisasi batu bara dilatarbelakangi oleh tingginya nilai impor bahan kimia di Indonesia dimana setiap tahun negara mengeluarkan miliaran dolar untuk memenuhi kebutuhan industri domestik. Produk-produk turunan hasil hilirisasi ini berpotensi besar untuk diekspor sehingga meningkatkan daya saing nasional. Kebijakan hilirisasi batu bara sejalan dengan amanat Kebijakan Energi Nasional yang menekankan pentingnya peningkatan nilai tambah sumber daya energi di dalam negeri.

Proses hilirisasi batu bara dapat dilakukan melalui integrasi teknologi gasifikasi. Gasifikasi batu bara adalah proses konversi termokimia di mana batu bara padat diubah menjadi gas sintetik (syngas), yaitu campuran utama dari hidrogen (H₂), karbon monoksida (CO), sedikit metana (CH₄), serta karbon dioksida (CO₂). Proses ini dilakukan dengan mereaksikan batu bara dengan oksigen terbatas, uap air (steam), dan terkadang ditambah udara pada suhu tinggi sekitar 900–1.200°C di dalam reaktor bertekanan. Tujuan utama gasifikasi adalah untuk menghasilkan gas sintetis yang dapat diolah lebih lanjut menjadi bahan bakar cair, bahan kimia dasar, atau energi listrik.

Tahap pertama dari gasifikasi batu bara adalah proses pengeringan (drying) untuk menguapkan air, diikuti pirolisis yang memecah batu bara menjadi gas ringan dan arang:

Cx​Hy​→CH₄​+H₂​+CO+char

Selanjutnya terjadi oksidasi parsial dan reduksi, menghasilkan gas sintetik melalui reaksi gasifikasi:

C+H₂​O→CO+H₂

CO+H₂​O↔CO₂​+H₂

Gas hasil kemudian dimurnikan dan digunakan sebagai bahan baku berbagai produk kimia melalui proses lanjutan. Proses gasifikasi batu bara menghasilkan berbagai produk turunan bernilai tinggi yang terbagi dalam bentuk gas, cair, dan padat. Produk utama adalah gas sintetik (syngas) yang mengandung karbon monoksida dan hidrogen, berfungsi sebagai bahan baku berbagai industri kimia. Dari syngas dapat dihasilkan metanol, yang digunakan untuk pembuatan plastik, pelarut dan formaldehida serta dapat dikonversi lebih lanjut menjadi olefin seperti etilena dan propilena sebagai bahan dasar industri petrokimia. Selain itu, gasifikasi juga menghasilkan SNG (Synthetic Natural Gas), gas metana sintetis yang dapat menggantikan gas alam konvensional sebagai sumber energi bersih. Pada sisi produk cair, terbentuk tar, yaitu campuran senyawa aromatik yang dimanfaatkan dalam pembuatan aspal, bahan pelapis, dan bahan kimia aromatik. Sedangkan dari hasil padatan dihasilkan kokas (char), residu karbon padat yang digunakan sebagai bahan bakar padat, karbon aktif, serta bahan reduktor dalam proses metalurgi. Seluruh produk ini menunjukkan bahwa gasifikasi batu bara merupakan teknologi yang mampu menghasilkan energi dan bahan kimia bernilai ekonomi tinggi secara terpadu dan efisien untuk mendukung kemandirian energi nasional.

Hilirisasi batu bara menuju industri coal chemical merupakan langkah strategis bagi Indonesia untuk bertransformasi dari negara pengekspor bahan mentah menjadi negara industri berbasis sumber daya energi. Dengan dukungan kebijakan pemerintah, penelitian terarah, dan penerapan teknologi efisien, Indonesia tidak hanya mampu mengurangi impor miliaran dolar per tahun, tetapi juga membuka jalan menuju kemandirian energi yang berkelanjutan. Batu bara kini tidak lagi sekadar komoditas mentah, melainkan sumber inovasi industri yang dapat menggerakkan ekonomi nasional di masa depan.



Daftar Pustaka

Ciptaswara, R.F. & Sulistiowati. 2022. Implementasi Hilirisasi Mineral dan Batu Bara dalam Rangka Mewujudkan Kedaulatan Energi dan Daya Saing Industri Nasional. Mimbar Hukum, Vol. 34, No. 2, pp. 521–558. Yogyakarta: Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.

Detik Finance. 2025. Hilirisasi Batu Bara ke Coal Chemical Bisa Kurangi Impor Miliaran Dolar.

Dry, M.E. (2002). Applied Catalysis A: General.

Gupta, R. & Wall, T.F. (2020). Coal Gasification: Chemistry and Engineering. Woodhead Publishing.

Higman, C. & van der Burgt, M. (2011). Gasification (2nd ed.). Gulf Professional Publishing.

Speight, J.G. (2013). The Chemistry and Technology of Coal. CRC Press.

U.S. DOE – NETL Reports (2019–2021).





Share:

Postingan Populer

Arsip Blog