[PRESS RELEASE] KULIAH UMUM KEWIRAUSAHAAN

Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HMTK) Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret sukses menyelenggarakan Kuliah Umum Kewirausahaan pada Sabtu, 6 Juni 2026. Acara ini berlangsung dari pukul 09.00 hingga 11.30 WIB di Ruang Sidang Utama Gedung 3 Fakultas Teknik UNS. Kuliah umum ini mengusung tema "Entrepreneurship for Well-Being: Balancing Profit and Mental Health" dan menghadirkan Aditya Agustin Yudi Ardiyanto, selaku pendiri bisnis kuliner Padma SOC dan Wokway, sebagai pembicara utama. Dalam acara tersebut, beliau membagikan wawasan dan pengalaman nyatanya seputar dunia bisnis kepada para mahasiswa. Mengawali pemaparannya, Aditya menceritakan perjalanan awal berbisnisnya yang hanya bermodalkan telepon seluler serta keberanian untuk membuat konten saat orang lain belum melakukannya. Pelanggan pertamanya berasal dari tahap uji coba yang kemudian berlanjut menjadi konsumen tetap. Seiring berjalannya waktu, beliau berhasil mengelola empat merek kuliner, yaitu Padma, Malika, Cepat Makan, dan Wokway. Walaupun terasa melelahkan, hal tersebut mampu menghasilkan pendapatan yang sangat besar. Namun, bisnis Malika terpaksa ditutup karena terus merugi meskipun awalnya sempat menjanjikan. Akibatnya, Padma kini menjadi usaha yang paling aktif beroperasi.

KULIAH UMUM KEWIRAUSAHAAN 2026

Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HMTK) Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret sukses menyelenggarakan Kuliah Umum Kewirausahaan pada Sabtu, 6 Juni 2026. Acara ini berlangsung dari pukul 09.00 hingga 11.30 WIB di Ruang Sidang Utama Gedung 3 Fakultas Teknik UNS. Kuliah umum ini mengusung tema "Entrepreneurship for Well-Being: Balancing Profit and Mental Health" dan menghadirkan Aditya Agustin Yudi Ardiyanto, selaku pendiri bisnis kuliner Padma SOC dan Wokway, sebagai pembicara utama. Dalam acara tersebut, beliau membagikan wawasan dan pengalaman nyatanya seputar dunia bisnis kepada para mahasiswa.

Mengawali pemaparannya, Aditya menceritakan perjalanan awal berbisnisnya yang hanya bermodalkan telepon seluler serta keberanian untuk membuat konten saat orang lain belum melakukannya. Pelanggan pertamanya berasal dari tahap uji coba yang kemudian berlanjut menjadi konsumen tetap. Seiring berjalannya waktu, beliau berhasil mengelola empat merek kuliner, yaitu Padma, Malika, Cepat Makan, dan Wokway. Walaupun terasa melelahkan, hal tersebut mampu menghasilkan pendapatan yang sangat besar. Namun, bisnis Malika terpaksa ditutup karena terus merugi meskipun awalnya sempat menjanjikan. Akibatnya, Padma kini menjadi usaha yang paling aktif beroperasi.

Beliau juga menyampaikan bahwa ide bisnis bisa datang dari mana saja. Hal tersebut dibuktikan melalui pengalaman mendirikan usaha Wokway. Usaha tersebut lahir dari pengamatannya terhadap konsep dapur terbuka pada film layar lebar berjudul Hunger. Di samping pencarian ide, strategi pemasaran juga harus diperkuat, misalnya melalui permainan nama merek yang kreatif serta pemanfaatan tren untuk membuat kampanye promosi. Namun, di balik strategi pemasaran yang baik, selalu ada tantangan operasional yang harus dihadapi. Beliau mengakui bahwa salah satu tantangan terberatnya adalah mengatur pergantian menu setiap tiga bulan di Padma agar tetap menarik minat pelanggan.

Perjalanan operasional Padma menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat. Pada bulan pertama, Padma hanya menghasilkan pendapatan satu juta rupiah, namun angka tersebut melonjak menjadi delapan juta rupiah pada bulan kesepuluh. Saat ini, Padma menghabiskan biaya operasional sekitar 15 hingga 20 juta rupiah setiap bulannya dengan total pemasukan mencapai 460 juta rupiah. Bisnis ini mencetak keuntungan bersih sebesar 80 juta rupiah, salah satunya didukung oleh daya tarik fasilitas kolam ikan koi. Meskipun demikian, beliau juga pernah mengalami kerugian terbesar akibat kematian ikan koi senilai satu juta rupiah per ekor akibat kecerobohan pelanggan. Pencapaian keuntungan hingga ratusan juta dari satu tempat usaha dinilai memberikan hasil yang nyata, walau terkadang memicu rasa kesepian bagi pemiliknya karena sering disepelekan pada tahap awal. Tantangan lainnya adalah menyesuaikan harga dengan keinginan pasar sebab harga yang terlalu murah terkadang justru membuat masyarakat ragu dan tidak percaya.

Selain mengelola kuliner, pembicara yang belajar bisnis secara mandiri lewat YouTube ini juga pernah merintis bisnis parfum dengan modal awal 18 juta rupiah untuk mengurus perizinan resmi. Parfum tersebut sukses diekspor ke Malaysia seharga 38 ringgit per botol karena pasar di sana sedang berkembang pesat. Beliau bahkan pernah merilis novel dengan bantuan kecerdasan buatan untuk mengembangkan ceritanya, meskipun angka penjualannya di pasar Singapura terbukti lebih rendah daripada pasar Amerika Serikat. Menurutnya, seorang pengusaha harus cerdik memanfaatkan waktu luang dan melihat peluang, bahkan bisa membeli usaha yang hampir tutup untuk dikembangkan kembali menjadi produk bernilai tinggi.

Terkait dinamika dalam menjalankan usaha, Aditya menegaskan bahwa seorang pengusaha tidak boleh terus-menerus mengorbankan kesehatan mentalnya. Rumus keberhasilan yang selalu beliau pegang adalah keseimbangan antara stabilitas mental dikalikan keuntungan akan menghasilkan bisnis yang mampu bertahan lama. Beliau menyadari bahwa keseimbangan ini mungkin akan sedikit mengurangi keuntungan secara finansial, tetapi hal tersebut penting untuk kualitas hidup pengusaha itu sendiri. Untuk mencapai hal ini, pengusaha disarankan menghindari pekerjaan serabutan dan mulai menerapkan manajemen waktu yang teratur. Terdapat empat pilar utama yang harus dijaga, yakni membangun sistem operasional yang baik, mengukur keuntungan secara tepat dengan menyulap barang biasa menjadi produk unggulan, mempercayai tim melalui pembagian tugas, serta berfokus pada pengendalian sumber daya manusia. Menurutnya, menjalin komunikasi yang baik antargenerasi sangatlah penting, apalagi pola pikir Generasi Z terbukti jauh lebih luas. Beliau juga berpesan agar pengusaha memiliki visi yang jelas karena banyak penanam modal yang siap berinvestasi pada potensi generasi muda.

Lebih lanjut, Aditya membagi dunia kerja menjadi karyawan, pemilik usaha, dan orang yang tidak bekerja. Perbedaan antara karyawan dan pemilik usaha adalah karyawan bisa beristirahat usai jam kerja, sedangkan pemilik usaha terus memikirkan kelangsungan bisnisnya. Di lapangan, pengusaha justru kerap kesulitan mencari tenaga kerja menengah akibat rendahnya komitmen pelamar. Mengingat beratnya beban merintis usaha, generasi muda disarankan menambah keterampilan melalui kelas daring dan bekerja di perusahaan lain terlebih dahulu guna mempelajari sistem manajerial. Terakhir, beliau menyoroti kesalahan umum pengusaha, yaitu merekrut terlalu banyak karyawan, mengabaikan efisiensi demi kenyamanan, terlalu sibuk di lapangan, serta enggan memperbarui ilmu bisnis.

Pada sesi tanya jawab, peserta mengajukan berbagai pertanyaan mengenai strategi pergantian menu berkala, metode peningkatan omzet, tantangan awal merintis bisnis kuliner, hingga cara mempertahankan stabilitas operasional dan menyikapi keraguan keluarga. Beliau menjelaskan bahwa rotasi menu diterapkan untuk menyajikan hidangan versi terbaik guna membangun kepercayaan pelanggan. Dalam upaya meningkatkan omzet, beliau merekomendasikan pendekatan adaptif melalui evaluasi berkala, pemasangan iklan digital, dan pemanfaatan agen promosi luar daerah yang lebih efisien. Selain itu, ditekankan bahwa untuk menjaga kualitas operasional usaha di tengah ketidakstabilan ekonomi, pemilik bisnis wajib memperhatikan kesejahteraan pegawai melalui pemberian fasilitas makan, kelonggaran cuti, serta jadwal olahraga rutin. Menyikapi tantangan awal merintis usaha, para pemula disarankan untuk membangun sistem yang matang, memisahkan uang bisnis dari uang pribadi, dan mencari modal sendiri atau memanfaatkan dukungan keluarga yang sudah ada.

Dengan diadakannya Kuliah Umum Kewirausahaan 2026 ini, diharapkan mahasiswa dapat memahami pentingnya keseimbangan antara keuntungan finansial dan kesehatan mental dalam berbisnis serta memperoleh gambaran nyata mengenai sistem manajerial dan strategi operasional pada dunia wirausaha. Kegiatan ini juga diharapkan dapat menambah wawasan mahasiswa terkait tantangan dunia bisnis sekaligus mempersiapkan mereka untuk menghadapi lingkungan kerja profesional yang menuntut kemampuan adaptasi, inovasi, dan kesadaran kesehatan mental yang tinggi.






Share:

Postingan Populer

Arsip Blog