Selasa, 06 Oktober 2020

[PENTENA] Akademis dan Organisasi, Mana Lebih Penting?

“Kuliah tanpa organisasi bagai sayur tanpa garam!”

“Mahasiswa yang kupu-kupu (kuliah-pulang kuliah-pulang) tidak akan sukses di dunia kerja!”

Begitulah kira-kira kalimat yang acap kali diucapkan oleh mahasiswa yang aktif berorganisasi dalam masa perkuliahannya. Setiap hari selalu saja ada program kerja yang mereka laksanakan . Bagi mereka rasa-rasanya tiada hari tanpa rapat. Tak hanya satu organisasi, berbagai macam organisasi sudah dicobanya. Semakin banyak organisasi semakin bagus, katanya.

Dengan dalih bahwa urusan organisasi lebih penting dari segalanya, tidak jarang urusan akademisnya pun terbengkalai. Mereka beranggapan tidak mengapa akademisnya buruk, yang penting pengalaman organisasinya baik. Tidak mengapa tak punya hardskill, yang penting softskills tetap terasah.

Menurut saya, dewasa ini hakikat organisasi di masa perkuliahan khususnya di kampus semakin bergeser. Berorganisasi hanya dianggap sekedar menjalankan program kerja, berorganisasi hanya dianggap kuliah-rapat kuliah-rapat, lebih parahnya lagi, urusan berorganisasi dianggap 180 derajat berlawanan dengan urusan akademis.

Padahal, segala kegiatan dan urusan yang kita lakukan di dunia ini tidak lain tidak bukan adalah untuk mencari manfaat dan menebar kebermanfaatan untuk orang lain. Dalam konteks yang kita bicarakan kali ini, yaitu dalam dunia perkuliahan, kegiatan mencari manfaat dan menebar kebermanfaatan ini bisa dilakukan dengan  berbagai macam cara. Sebagian mahasiswa fokus untuk mencari manfaat ilmu didalam kelas perkuliahan. Kegiatan tersebut tentu sama sekali tidak dapat disalahkan, karna sudah bisa dipastikan sebagian mahasiswa tersebut akan menebar kebermanfaatan dengan menerapkan dan mungkin menularkan ilmu yang telah didapatkannya didalam kelas. Sebagian mahasiswa pun memilih fokus untuk aktif mencari manfaat dan menebar kebermanfaatan di luar kelas seperti organisasi.

Kesalahan terjadi ketika sebagian mahasiswa yang berfokus pada urusan tertentu, menganggap urusan lain tidak berguna. Mahasiswa yang aktif berorganisasi menganggap urusan perkuliahan tidak penting, sebaliknya mahasiswa yang fokus di perkuliahan menganggap urusan di luar kelas tidaklah penting.

Jika kita definisikan ilmu yang didapatkan di perkuliahan sebagai hardskill dan ilmu yang didapatkan didalam organisasi sebagai softskills, kedua skill ini bagaikan Yin dan Yang, Mereka bukanlah dua hal yang berbeda melainkan satu kesatuan yang utuh, mereka tidak bertolak belakang, pun tidak saling meniadakan. Keduanya harus tetap diasah agar manfaat yang kita dapatkan serta kebermanfaatan yang kita berikan “nggak nanggung”.

Kembali ke masalah mencari manfaat dan menebar kebermanfaatan, kesalahan kembali terjadi ketika urusan akademis dan organisasi ini seakan “lari” dari hakikatnya. Kegiatan perkuliahan yang seharusnya ajang mencari manfaat untuk diterapkan kemudian hari, menjadi ajang mencari Indeks Prestasi, alhasil berbagai macam cara dilakukan agar mendapat IP yang tinggi dengan melupakan hakikat perkuliahan itu sendiri. Orientasi nya pada hasil, bukan pada proses. Kegiatan organisasi pun yang seharusnya menjadi jalan untuk mendapatkan softskills berubah menjadi jalan untuk pamer kesibukan.

Dua kesalahan ini yang menurut saya harus segera diperbaiki. Kata ‘manfaat’ dan ‘kebermanfaatan’ harus senantiasa terpatri didalam pikiran kita. Dua kata ini yang selalu menjadi alasan utama dan mendasar untuk melakukan segala kegiatan. Terlepas dari hasil yang akan didapatkan, angger lakoni sek.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni)

Autor : Harry Pramudya Rivelino

0 comments:

Posting Komentar