Minggu, 24 April 2016

BUTENA EDISI 6


Hai, kawan seperjuangan... J

Tertarik pada keputusan Pak Jokowi mengenai pengembangan Blok Masela, yang akhirnya diputuskan untuk membangun kilang LNG di darat. Butena edisi kali ini akan membahas tentang perbedaan pembangunan antara sistem FLNG dan OLNG. Akan tetapi, sebelumnya akan dibahas mengenai karakteristik gas yang ada di blok masela. Silakan menyimak!

Gas Blok Masela
Gas pada Blok Masela merupakan salah satu sumur gas terbesar di dunia dengan cadangan yang terdeteksi saat ini yaitu sekitar 10,73 TCF dengan kandungan gas CH4 yang tinggi. Selain itu hasil kondensatnya pun juga terhitung sangat besar yaitu sekitar 202 MMSCFD atau sekitar 24.000 barel per hari. Akan tetapi gas pada Blok Masela ini memiliki kandungan lilin yang tinggi serta memiliki temperatur yang tinggi pula. Selain itu disekitar blok masela juga terdapat palung yang dalamnya lebih dari 2000 m.

Perjalanan Blok Masela
Pada 16 Nopember 1998, ditandatangani kontrak kerjasama (KKS) yang berisi pengelolaan sumur gas dimana kontrak ini akan berakhir pada tahun 2028. Kemudian dilakukan pengkajian lanjutan penelitian dan pada tahun 1999 ditemukan lapangan gas abadi melalui eksplorasi sumur pertama. Sumur ini kemudian disertifikasi oleh LEMIGAS (Lembaga Minyak dan Gas) dengan hasil cadangan gas sebesar 6,9 TCF. Pemerintah menyepakati PoD (Plant of Development) dengan fasilitas FLNG sebesar 2,5 MTPA.
Pada pengeboran selanjutnya, Januari 2012-2014, yang dilakukan untuk menentukan besar cadangan gas yang sebenarnya (sumur 8, 9, 10), ternyata INPEX menemukan cadangan gas lebih besar sehingga mengajukan revisi PoD dari 2,5 menjadi 7,5 MTPA dengan skema yang sama yaitu FLNG (tahun 2014).
Tepatnya bulan Maret tahun 2015, LEMIGAS mengeluarkan sertifikasi yang menyatakan bahwa cadangan gas yang ada lebih dari 10,7 TCF yang kemudian pada September tahun yang sama PoD yang telah direvisi diserahkan ke Kementrian ESDM oleh SKK Migas. Akan tetapi terjadi perbedaan pendapat antara Kementrian Kemaritiman dengan ESDM dan SKK Migas. Dimana Kementrian Kemaritiman meminta untuk pembangunan unit pengolahan LNG dilakukan di darat, sedangkan SKK Migas dan Kementrian ESDM menyarankan untuk membangun unit pengolahan LNG di laut seperti PoD yang diserahkan oleh INPEX. Selaku kepala negara serta penentu keputusan, akhirnya pada 23 Maret 2016, Presiden Joko Widodo mengumumkan bahwa pembangunan unit LNG dilakukan di darat.

Antara FLNG dan OLNG
FLNG untuk Blok Masela diperkirakan dibangun dengan investasi sekitar 14,8 milyar dolar, lebih murah 4,5 milyar dolar daripada OLNG yang diperkirakan menelan biaya investasi sekitar 19,3 milyar dolar. Alasan utama mengapa kilang LNG di darat justru lebih mahal daripada di laut adalah sebagai berikut.
  1.  Diperlukan FPSO (Floating Production Storage And Ofloading) dimana FPSO tidak terlalu jauh dimensinya dibandingkan FLNG dengan selisih seratusan meter. Alasan utama Blok Masela harus menggunakan FPSO adalah kondisi gasnya yang cenderung waxy atau berlilin, berkondensat tinggi serta memiliki temperatur yang tinggi sehingga perlu adanya treatment terlebih dahulu sebelum dialirakan dengan pipa menuju daratan.
  2. Proses pada FPSO tidak berbeda jauh dengan FLNG dengan perbedaan pada pengolahan Hg & CO2 removal serta liquefactionnya yang dilakukan di darat.
  3.  Jumlah fasilitas yang dibutuhkan OLNG lebih banyak daripada FLNG, dimana OLNG membutuhkan unit FPSO, kilang LNG darat, perpipaan dari FPSO menuju kilang serta surf and subsea drilling. Sedangkan FLNG hanya membutuhkan unit FLNG, logistic supply base serta  surf and subsea drilling.


Catatan :
  • Blok Masela memiliki kedalaman rata-rata pada 400-800 meter.
  • Jarak antara ladang gas dan pulau terdekat yang memungkinkan dibangunnya kilang darat (kepulauan Aru) adalah sekitar 600 km, 3 kali lebih jauh daripada unit produksi gas di Teluk Meksiko yang hanya 200 km dengan skema yang hampir sama.
  • 4,5 milyar dolar setara dengan 2 kali biaya jalan trans papua, 5 kali biaya pembangunan jalur trans maluku, serta 31 kali biaya pengembangan Kota Ambon sebagai waterfront city.



Info tambahan :
Petronas sudah memiliki 1 unit FLNG yang sudah aktif dan diberi nama PFLNG 1 dengan dimensi 300x60 m dan sedang membangun PFLNG 2 dengan dimensi 321x64 m. Sedangkan Shell sedang menyelesaikan finishing FLNG-nya yang memiliki panjang 488 m.

Ekstrapolasi dan Angan-Angann
Apabila PFLNG 1 dengan sumber gas sejumlah 1,2 MTPA membutuhkan 300 m, PFLNG 2 sebesar 1,5 MTPA membutuhkan 321 m, dan Prelude FLNG sebesar 3,5 MTPA membutuhkan 488 m, berapa meter panjang FLNG yang dibutuhkan Blok Masela jika unit pengolahan gas yang sebanyak 7,5 MTPA menggunakan sistem FLNG? 

0 comments:

Posting Komentar