Minggu, 27 Maret 2016

Kuliah Umum 1, Implementasi Safety di Perguruan Tinggi

Keselamatan kerja merupakan salah satu instrumen yang sangat penting tidak hanya di dunia kerja melainkan juga dalam kehidupan sehari-hari. Keselamatan kerja akan memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan masyarakat umum melalui peraturan yang ada. Salah satu tempat yang sangat penting untuk ditekankan instrumen ini adalah perguruan tinggi.

Alasan mengapa keselamatan kerja sangatlah penting ditekankan diperguruan tinggi karena di perguruan tinggilah dimana transfer pengetahuan memiliki intensitas yang sangat besar terutama di fakultas teknik yang sering bersentuhan dengan barang-barang yang notabennya merupakan tempat berlangsungnya berbagai percobaan yang memiliki resiko yang tinggi.


Meski alat-alat percobaan atau yang lebih di kenal dengan alat praktikum sudah memiliki standarisasi tersendiri agar aman untuk digunakan akan tetapi praktikan yang menggunakan adalah orang yang baru belajar artinya baru mengenal sehingga perlu adanya penekanan terhadap faktor keselamatan ini agar resiko kecelakaan dapat diminimalkan atau bahkan di nihilkan.

Ir. Sutadi Sosroatmodjo, pengisi kuliah umum 1 pada kesempatannya memberikan penjelasan bagaimana meminimalisir kecelakaan kerja di perguruan tinggi. Beliau memulai penjelasannya dengan memperkenalkan faktor-faktor bahaya yang ada di dunia kerja dan laboratorium sebagai berikut:

 

Faktor bahaya fisik/mekanik

Faktor fisik merupakan faktor yang paling sering menyebabkan kecelakaan, bahkan bahaya fisik/mekanik ini menjadi sumber utama kecelakaan di dunia industri. Ir Sutadi mencontohkan untuk dunia industri sendiri pada tiap tahunnya kecelakaan crane menempati urutan paling banyak menyumbang korban jiwa. Sedangkan untuk laboratorium luas laboratorium sangatlah mempengaruhi keselamatan kerja dari prakikan yang ada. Contohnya jika laboratorium yang seluas 10 meter kali 10 meter di isi oleh 10 praktikum yang memiliki topik yang berbeda dibandingakn dengan laboratorium yang memiliki luas yang sama yang di isi 5 praktikum yang berbeda topik. Tentunya kasus yang kedua resikonya jauh lebih kecil daripada kasus yang kedua dikarenakan luas pergerakan dari praktikan yang lebih bebas.


Faktor kimia

Para pekerja yang berada di gudang kimia ataupun laboran memiliki resiko yang besar terhadap paparan bahan kimia. Dalam hal ini pencegahannya dapat dilakukan dengan meng-optimalkan ventilasi agar berbagai zat yang bersifat volatil dapat diusir dari ruangan. Selain itu untuk pekerja gudang juga diusahakan adanya sifht agar intensitas paparan dapat diminimalisir imbuhnya.

 

Bahaya biologis

Bahaya biologis merupakan bahaya yang penanganannya agak susah dilakukan. Seperti bakteri, virus dan fungi maupun bahan biologis lainnya dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungan sehingga perlu adanya penanganan khusus ketika diperlukan seperti ruangan steril.

 

Masalah psikologis dan sosial

Masalah ini dapat disebabkan oleh adanya stress karena intensitas jam kerja yang terlalu tinggi atau tidak sesuai waktunya, kekerasan dalam organisasi, penindasan dan lain sebagainya. Dalam hal ini komunikasi sangatlah diperlukan agar tidak terjadi kesenjangan yang menyebabkan meningkatnya resiko bahaya yang ada.



Selain faktor-faktor bahaya yang ada di dunia kerja maupun ada di perguruan tingg beliaiu juga menjelaskan jenis-jenis bahaya terutama yang sangat dekat dengan dunia keteknik kimiaan diantaranya adalah :


1.      Tumpahan bahan kimia, memiliki cara penanganan khusus sesuai dengan sifat bahannya

2.      Kaca / alat-alat kaca, dimana jika terjadi pecahan kaca membuangnya pun tidak sembarangan

3.      Electric / kelistrikan dimana cara penempatan serta pemilihan barang kelistrikan harus dipilih sesuai dengan kebutuhan

4.      Cryogenik, tabung cryogenik memiliki penanganan khusus agar tidak terjadi ledakan maupun sebagainya

5.      Ledakan

6.      Api, alat-alat penanganan terhadap kebakaran juga harus dipersiapkan dengan baik.

 

Setelah menjelaskan mengenai faktor-faktor bahaya yang ada di lingkungan kerja serta perguruan tinggi, beliau menjelaskan mengenai tata cara mengurangi resiko yang ada melalui langkah langkah keselamatan kerja.


1.      Menghilangkan subtitusi yaitu dengan memilih bahan atau alat yang memiliki resiko paling kecil.

2.      Merubah metode, seperti mereaksikan AàB jika pada reaksinya menimbulkan bahaya maka caranya dirubah menjadi AàCàB atau sebaliknya.

3.       Merubah waktu, yaitu memilih waktu dimana pada saat itu memiliki resiko yang paling kecil. Misalnya mengoptimalkan penelitian pada siang hari dan menjalankan penelitian yang tidak terlalu berat pada malam hari.

4.       Segregasi/isolasi, seperti mengambil asam sulfat dalam lemari asam serta memisahkan bahan bahan eksplosif jauh dari oksidatornya.

5.      Engineering control, contohnya adalah gergaji laboratorium yang tidak akan bekerja jika tidak ditekan dengan dua tangan secara bersamaan. Hal ini dilakukan untuk menghindarkan tangan dari tajamnya gergaji.

Perlindungan diri, tentunya setelah semua usaha eksternal dilakukan internal juga perlu diperkuat seperti memakai jas lab, sarung tangan, kaca mata, sepatu laboratorium dan sebagainya.


Selain instrumentasi yang telah diatur sedemikian rupa keselamatan kerja atau yang biasa disebut dengan safety juga perlu dikajikan secara rutin atau teratur agar tercipta suatu kondisi atau budaya kerja yang baik. Hal ini sangatlah penting terutama di perguruan tinggi dengan adanya sirkulasi mahasiswa baru setiap tahunnya.

Menurut Ir. Sutadi Kajian terhadap Keselamatan kerja ini peru dilakukan atau ditekankan ketika ada pegawai baru / mahasiswa baru, produk baru didalam dunia industri atau alat baru di dalam laboratorium, serta penggantian prosedur yang ada. Meskipun begitu briefing atau pemaparan awal harus dilakukan setiap awal kerja di perusahaan ataupun awal ajaran baru di perguruan tinggi.

Acara kuliah umum yang berlangsung di gedung LPPMP Universitas Sebelas Maret ini juga dilanjutkan dengan diskusi singkat dengan beberapa pertanyaan dari audience mengenai topik yang telah disampaikan pemateri. Acara hari jumat 18 Maret 2016 itupun ditutup dengan pemberian kenang-kenangan dari jurusan sarjana teknik kimia kepada pemateri yang diberikan oleh Dr. Margono, S.T., M.T., selaku kepala program studi.

 Suasana Sebelum Kuliah Umum 1 dimulai


 Suasana Kuliah Umum 1 Saat Pembicara Menyampaikan Materi


 Suasana Sesi Tanya-Jawab Peserta Kuliah Umum 1 dengan Pembicara



 Penyerahan Kenang-Kenangan oleh Kepala Jurusan Teknik Kimia Kepada Pembicara


BRAVO HMTK
JAYALAH TEKNIK KIMIA INDONESIA

0 comments:

Posting Komentar